makalah filologi kelas A

PHILOLOGY

Pengertian, objek dan tujuan philology.

Dosen Pengampu : Afiati Handayu

 

 

Disusun oleh :

Asep Subhan                         (09150012)

Ati Kamesywari                    (09150013)

Ummi Fitriyah                      (10150024)

Khairunnisa                          (10150020)                                   

Kelas               : A

Kelompok       : 1

JURUSAN SASTRA INGGRIS

FAKULTAS ADAB DAN ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA

 YOGYAKARTA

2012

 

 

DAFTAR ISI

 

BAB I PENDAHULUAN.. 2

BAB II ISI. 4

BAB III PENUTUP. 7

DAFTAR PUSTAKA.. 8

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I PENDAHULUAN

 

  1. 1.                  Kata Pengantar
  2. Pendahuluan

Makalah ini disusun terutama untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Filologi sub pembahasan Pengertian, Objek, dan Tujuan Filologi. Dalam proses pembuatan makalah ini kami menggunakan referensi Induk dari buku Pengantar Teori Filologi yang diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Publikasi Fakultas (BPPF) Seksi Filologi Fakultas Sastra UGM dan referensi lain yang dapat kami temukan.

Terakhir kami berharap semoga makalah ini memiliki nilai guna khususnya bagi kami sebagai penyusun dan umumnya bagi teman-teman di kelas A Mata Kuliah Filologi Jurusan Sastra Inggris Fakultas Adab UIN Sunan Kaijaga Yogyakarta. 

 

  1. Latar Belakang

Lahirnya Filologi dilatarbelakangi oleh sejumlah faktor yaitu :

  1. Munculnya informasi tentang masa lampau di dalam sejumlah karya tulisan dan adanya anggapan nilai-nilai yang terkandung dalam peninggalan tulisan masa lampau yang dipandang masih relevan dengan kehidupan sekarang.
  2. Usaha untuk mendapatkan pemahaman yang lebih akurat tentang naskah atau manuskrip pada masa lampau.

Karena beberapa faktor diatas tersebut kita perlu membahas filologi secara jelas meliputi pengertian, objek kajian serta tujuan mempelajari filologi.

 

  1. Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
    1. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan filologi?
    2. Apa saja objek dari filologi?
    3. Apakah tujuan dari filologi itu?

 

 

 

 

 

  1. Tujuan
     Tujuan penulisan makalah ini adalah:
    1. Mengetahui dan  mengerti apa filologi.
    2. Mengetahui apa saja objek dan tujuan dari filologi.
  2. Manfaat
    Manfaat penulisan makalah ini antara lain:
    1. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis dan pembaca.
    2. Memahami tentang pengertian, objek dan tujuan dari filologi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II ISI

 

  1. 1.                  Pengertian Filologi

 

Secara etimologi, filologi berasal dari bahasa Yunani philologia yang berupa gabungan kata dari philos yang berarti “teman” dan logos yang berarti “ilmu” (Baried, 1994: 2). Philologia itu sendiri berarti senang akan perdebatan, belajar, dan sastra (Webster, 1981: 1698).

Secara terminologi, kata filologi mulai dipakai pada abad 3 SM oleh sekelompok ahli dari Iskandariyah, yaitu untuk menyebut keahlian yang diperlukan untuk mengkaji peninggalan tulisan-tulisan kuno yang berasal dari kurun waktu beratus-ratus tahun sebelumnya. Ahli dari Iskandariyah yang pertama kali melontarkan istilah filologi bernama Eratosthenes (Baried, 1994: 2).

Filologi merupakan ilmu interdisipliner antara linguistik, sejarah, dan kebudayaan (Chaer, 2007: 16). Kata filologi itu sendiri masuk ke dalam bahasa Indonesia sebagai kata serapan dari bahasa Inggris philology yang berdasarkan pada kamus Webster (1698) memiliki 3 arti:

  1. Kajian sastra yang biasanya mencakup tata bahasa, kritik, sejarah sastra, bahasa sastra, metode menulis, dan beberapa bidang lain yang berkaitan dengan sastra atau dengan bahasa yang digunakan dalam karya sastra. Secara singkat terkadang diartikan juga sebagai pengetahuan akan sastra dan karya-karya klasik.
  2. Dalam bidang linguistik, diartikan sebagai:

(1) Linguistik historis dan komparatif,

(2) Kajian atas bahasa manusia terutama dalam posisinya sebagai sarana sastra dan sebagai ranah kajian yang memperjelas sejarah sebuah kebudayaan.

 

  1. 2.                  Sasaran dan Objek Kajian Filologi

 

Sekurang-kurangnya ada tiga istilah untuk menyebut sasaran kajian Filologi, yaitu naskah (dari Bahasa Arab, artinya tulisan tangan), manuskrip (dari Bahasa Latin, artinya tulisan tangan), dan Kodeks. Sementara itu, ilmu yang berkaitan dengan naskah dan pernaskahan disebut sebagai Kodikologi.

Dalam sebuah naskah terkandung informasi masa lampau berkaitan dengan banyak hal, misalnya buah pikiran, perasaan, kepercayaan, adat kebiasaan, dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat pada saat naskah tersebut muncul. Seluruh kandungan naskah ini yang menyajikan berbagai informasi disebut sebagai teks. Jika naskah merupakan sesuatu yang konkret, maka teks merupakan sesuatu yang abstrak. Teks inilah yang merupakan objek kajian Filologi. Ilmu yang berkaitan dengan teks yang tersimpan dalam sebuah naskah disebut sebagai tekstologi (Baried, 1985: 6).

 Meski demikian, ada pendapat yang mengatakan bahwa sasaran kajian filologi tidak harus berupa naskah, tetapi juga bisa berupa peninggalan dalam bahasa lisan. Pendapat ini berdasarkan pada realita bahwa bahkan sebelum adanya tradisi tulisan, dalam sebuah masyarakat sudah berkembang nilai-nilai, adat kebiasaan, dan hal-hal lain yang tercakup dalam pengertian teks.

 

  1. 3.                  Tujuan Filologi

 

Tujuan Filologi dapat dibedakan secara garis besar menjadi dua kategori, tujuan umum dan tujuan khusus. Baik tujuan umum maupun tujuan khusus dapat dirinci kembali menjadi beberapa poin seperti di bawah ini:

 

  1. Tujuan Umum

–          Mengungkapkan produk masa lampau melalui peninggalan tulisan.

Peninggalan masa lampau bisa berupa artefak dan bisa juga berupa naskah. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, sasaran kajian Filologi adalah peninggalan masa lampau yang berupa naskah, sementara penelitian artefak dilakukan oleh bidang Arkeologi.

–          Mengungkapkan fungsi peninggalan tulisan pada masyarakat penerimanya, baik ada masa lampau maupun pada masa kini

Dengan meneliti sebuah naskah, Filologi mencoba mengungkapkan apa peran dari naskah yang ditelitinya bagi masyarakat tempat naskah itu berasal. Apakah naskah tersebut bersifat signifikan bagi mereka atau tidak, dan jika ternyata signifikan, apakah naskah tersebut masih signifikan juga pada masyarakat yang sama di masa sekarang.

–          Mengungkapkan nilai-nilai budaya masa lampau

Selain untuk mengetahui signifikansi sebuah naskah, Filologi juga mencoba mengungkap nilai-nilai budaya sebuah masyarakat di masa lampau. Dalam tujuan ini, Filologi bersentuhan dengan Antropologi. Filologi mengungkap inti dari nilai-nilai budaya pada sebuah masyarakat yang mungkin saja sudah tidak ada pada masyarakat tersebut di masa sekarang, sementara Antropologi mempelajari penyebab adanya perubahan kebudayaan pada masyarakat tersebut dari masa ke masa.

 

  1. Tujuan Khusus

–          Mengungkapkan bentuk mula teks yang tersimpan dalam peninggalan tulisan masa lampau

Di antara masa lalu dan masa kini terbentang jarak waktu yang sangat luas. Dalam rentang waktu tersebut, sebuah naskah kerap kali mengalami beberapa kali tulis-ulang. Penulisan ulang tersebut tidak memustahilkan adanya reduksi dalam isi naskah. Filologi bertujuan menyelidiki sebuah naskah sampai sedekat mungkin dengan edisi pertama ketika naskah itu muncul.

–          Mengungkapkan sejarah perkembangan teks

Dalam proses menyelidiki edisi awal sebuah naskah, akan ditemukan berbagai hasil tulis-ulang yang kerap kali tak sama satu sama lain. Isi naskah terbaru, misalnya, bisa jadi sangat berbeda dengan naskah paling awal. Dengan menelusurinya dapat dilihat bagaimana perbedaan tersebut dapat terjadi dalam tahap-tahap penulisan ulang sebuah naskah.

–          Mengungkapkan sambutan masyarakat terhadap suatu teks sepanjang penerimaannya

Naskah yang dipelajari Filologi mengandung berbagai informasi mengenai sebuah masyarakat pada satu masa. Dengan melakukan penyelidikan naskah, dapat dilihat bagaimana sikap masyarakat terhadap teks yang terkandung dalam naskah yang dipelajari.

–          Menyajikan teks dalam bentuk yang terbaca oleh masyarakat masa kini, yaitu dalam bentuk suntingan.

Naskah-naskah kuno kerap kali ditemukan tertulis dalam tulisan yang sudah tidak digunakan lagi sekarang. Naskah-naskah dari masa Jawa Kuno misalnya menggunakan tulisan Pallawa. Beberapa naskah lain, misalnya Pararaton dan Sutasoma menggunakan bahasa Jawa Kawi. Dengan adanya Filologi, naskah-naskah tersebut dapat disunting kembali sehingga dapat dibaca oleh masyarakat masa kini.

 

BAB III PENUTUP

 

  1. 1.                  Kesimpulan

Secara Etimologi Filologi berasal dari bahasa Yunani Philos yang berarti teman dan Logos yang berarti ilmu, sementara secara Terminologi Filologi berarti ilmu yang mengkaji tulisan-tulisan kuno.

Sasaran dari Filologi adalah naskah, sementara objeknya adalah teks dalam naskah tersebut. Dua istilah lain untuk naskah adalah manuskrip dan kodeks.

Filologi memiliki tujuan umum dan tujuan khusus yang terutama untuk mengungkapkan nilai-nilai kebudayaan masa lampau.

 

  1. 2.                  Saran

Makalah ini hanyalah membahas secara singkat mengenai pengertian, sasaran, objek, dan tujuan Filologi. Diperlukan sebuah pembahasan tersendiri untuk mendapat gambaran yang lebih lengkap mengenai pergeseran pengertian Filologi dari sejak awal kemunculannya sampai masa kontemporer.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Webster’s Third New International Dictionary of the English Language. Springfield: Merriam, 1981.

Chaer, Abdul. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta, 2007.

Baried, Siti Baroroh dkk. Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: BPPF Seksi Filologi Fakultas Sastra UGM, 1994.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MAKALAH FILOLOGI

“Kedudukan Filologi di antara Ilmu Lain’’

 

Makalah ini disusun untuk memenuhi

Tugas mata kuliah Filologi

Dosen Pengampu : Afiati Handayu

 

 

 

 

Disusun oleh:

 

1.      Setyorini Kholidi                    09150019

2.      Siti Nurjanah                           09150024

3.      Yuniarti                                   10150023

4.      Siti Marfu’ah                           10150033

 

 

SASTRA INGGRIS

FAKULTAS ADAB DAN ILMU BUDAYA

 UIN SUNAN KALIJAGA

                                    YOGYAKARTA           

2011

 

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

            Dalam  angka mengungkapkan bentuk mula suatu teks yang tersimpan dalam naskah, kerja filologi berhubungan dengan berbagai studi tentang berbagai faktor yang terkait dengan naskahdan teks. Dengan demikian, dalam kaitannya dengan sasaran kerja yang berupa naskah, filologi banyak berkaitan dengan kodikologi (ilmu tentang naskah. Demikian pula, karena objek kerjanya teks, maka filologi banyak berkaitan dengan tekstologi (ilmu tentang teks). Kerja filologi memerlukan pula bantuan berbagai disiplin yang berkaitan dengan pengetahuan tentang unsur-unsur yang terkait dengan naskah, seperti bahan (kertas, kulit kayu, kulit binatang, daun papirus, dll.), tinta, tulisan, bahasa, dan yang berkaitan dengan teks yang menjadi kandungannya, seperti yang berupa budaya, sastra, sejarah, hukum, adat istiadat, dan berbagai pengetahuan yang terkandung di dalamnya.

            Sebaliknya, dari hasil kerja filologi dapat diangkat sejumlah informasi tentang masa lampau yang berhubungan dengan faktor-faktor tersebut. Berita tentang peristiwa sejarah masa lampau suatu bangsa atau suku bangsa yang terungkap dalam suatu peninggalan tertulis suatu bangsa, misalnya belum dapat menjadi data yang memiliki autoritas tinggi sebelum diungkapkan melalui studi kerja filologi.

            Keberadaannya dalam dunia ilmu, membuat filologi berkaitan dalam hubungan saling mendukung dengan ilmu-ilmu lain.

 

  1. Rumusan Masalah
  2.  Apa kedudukan filologi diantara ilmu-ilmu lain?
  3. Bagaimana kedudukan filologi diantara ilmu-ilmu lain?

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

  1. Ilmu Bantu Filologi

Kajian filologi terhadap naskah kuno banyak disajikan dengan bahasa asing, maka untuk melengkapi penggarapan naskah dierlukan juga pengetahuan bahasa asing. Dibawah ini ilmu-ilmu bantu yang membantu dalam mengkaji naskah.

  1. Linguistik

Kebanyakan bahasa naskah sudah berbeda dengan bahasa sehari-hari, maka sebelum sampai kepada tujuan yang sebenarnya seorang ahli filologi harus terlebih dahulu mengkajinya. Untuk pengkajian bahasa naskah inilah diperlukan bantuan linguistik.

Ada beberapa cabang linguistic yang dipandang dapat membantu filologi, yaitu diantaranya: etimologi, sosiolinguistik, dan stilistika. Etimologi, ilmu yang mempelajari asal-usul dan sejarah kata, telah lama menarik perhatian ahli filologi. Bahasa-bahasa naskah Nusantara banyak yang mengandung kata serapan dari bahasa asingyang dalam perjalanan hidupnya mengalami perubahan bentuk dan kadang-kadang juga perubahan arti. Itulah sebabnya maka kata semacam itu, untuk pemahaman teks, perlu dikaji sejarahnya. Pengkajian perubahan bentuk dan makna kata menuntut pengetahuan tentang fonologi, morfologi, dan semantik, yaitu ilmu-ilmu yang mempelajari bunyi bahasa, pembentukan kata, dan makna kata. Ketiganya juga termasuk linguistik.

Sosiolinguistik sebagai cabang linguistik yang mempelajari hubungan dan saling pengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku masyarakat, sangat bermanfaat untuk menekuni bahasa teks, misalnya ada tidaknya unda usuk bahasa, ragam bahasa, alih kode, yang erat kaitannya dengan konvensi masyarakat pemakai bahasa. Hasil kajian seperti ini diharapkan dapat membantu pengungkapan keadaan sosiobudaya yang terkandung dalam naskah.

Selanjutnya stilistika, yaitu cabang ilmu linguistik yang menyelidiki bahasa, khususnya gaya bahasa, diharapkan dapat membantu filologi dalam pencarian teks asli atau mendekati aslinya dalam penentuan usia teks.

Pengetahuan stilistika diharapkan membantu penentuan usia teks. Telah dikemukakan bahwa banyak naskah lama yang tidak mencantumkan data waktu penulisan atau penyalinan dan nama pengarangnya. Perbandingan gaya bahasa naskah yang demikian dengan gaya bahasa naskah-naskah yang diketahui usianya diharapkan dapat membantu penentuan usianya meskipun hanya sekedar perkiraan zaman penulisannya.

  1. Pengetahuan Bahasa-Bahasa yang Mempengaruhi Bahasa Teks

Bahasa yang mempengaruhi bahasa-bahasa naskah Nusantara yaitu bahasa Sansekerta,Tamil, Arab, Persi, dan bahasa daerah yang serumpun dengan bahasa naskah. Pengaruh bahasa Tamil, Persi, dan Barat terhadap bahasa naskah sangat sedikit. Lain halnya dengan bahasa Sansekerta dan bahasa Arab, kedua bahasa ini besar pengaruhnya terhadap bahasa Nusantara, sehingga untuk pemahaman teks kedua teks kedua bahasa ini perlu dipahami.

a.       Bahasa Sansekerta

Terutama untuk pengkajian naskah-naskah Jawa, khususnya Jwa Kuna, sangat dituntut pengetahuan bahasa Sansekerta. Dalam naskah Jawa Kuna pengaruh bahasa ini sangat besar, tidak hanya berupa penyerapan kosa kata dan frase, melainkan juga munculnya cuplikan-cuplikan yang kadang-kadang tanpa terjemahan. Dalam naskah Jawa Baru pengaruhnya boleh dikatakan hanya  berupa kata-kata serapan. Dalam naskah-naskah Melayu, seperti dalam naskah Jawa Baru, pengaruhnya juga berupa kata serapan, tetapi jumlahnya tidak sebanyak yang terdapat dalam naskah-naskah Jawa Baru.

b.      Bahasa Arab

Pengetahuan bahasa Arab diperlukan untuk pengkajian naskah-naskah yang kena pengaruh Islam, khususnya yang berisi ajaran Islam dan tasawuf atau suluk. Dalam naskah yang demikian itu banyak terlihat banyak terlihat kata-kata ,frase, kalimat, ungkapan dalam bahasa Arab, bahkan kadang-kadang bagian tertentu, misal pendahuluan, disusun dalam bahasa Arab.

c.       Pengetahuan Bahasa-Bahasa Daerah Nusantara

Kecuali bahasa asing yang besar pengaruhnya terhadap bahasa naskah, untuk penggarapan bahasa naskah-naskah Nusantara diperlukan pengetahuan tentang bahasa derah Nusantara yang erat kaitannya. Dengan bahasa naskah. Tanpa pengetahuan ini penggarapan naskah kadang-kadang direpotkan oleh pembacaan kata yang ternyata bukan kata dari bahasa asing, melainkan kata dari salah satu bahasa daerah.

Kegiatan lain yang memerlukan pengetahuan bahasa-bahasa daerah Nusantara ialah menyadur atau menerjemahkan teks-teks lama Nusantara ke dalam bahasa Indonesia yang juga merupakan kegiatan ahli filologi.

  1. Paleografi

Paleografi adalah ilmu macam-macam tulisan kuna. Ilmu ini mutlak perlu untuk penelitian tulisan kuna atas batu, logam, atau bahan lainnya. Paleografi mempunyai dua tujuan : pertama, menjabarkan tulisan kuna karena beberapa tulisan kuna sangat sulit dibaca. Kedua, menempatkan berbagai peninggalan tertulis dalam rangka perkembangan umum tulisannya dan atas dasar itu menentukan waktu dan tempat terjadinya tulisan tertentu. Hal ini sangat penting untuk mempelajari tulisan tangan karya sastra yang biasanya tidak menyebutkan bilamana dan di mana suatu karya ditulis, serta siapa pengarangnya.

  1. Ilmu sastra

            Banyak naskah nusantara yang mengandung teks sastrawi, yaitu teks yang berisi cerita rekaan (fiksi). Sebagai contohnya, teks Melayu yang tergolong cerita pelipur lara, cerita jenaka, cerita berbingkai, dan lain-lain. Berdasarkan cara menerangkan dan menilai karya-karya sastra, Abrams membedakan tipe-tipe pendekatan (kritik) tradisional menjadi empat yaitu pendekatan mimetik, pendekatan pragmatik, pendekatan ekspresif, pendekatan objektif.

Wellek dan Warren mengkategorikannya sebagai berikut:

  • Ketiga pendekatan pertama tersebut diatas termasuk pendekatan yang oleh disebut pendekatan ekstrinsik, yaitu pendekatan yang menrangkan karya sastra lewat latar belakangnya, keadaan sekitarnya, dan sebab-sebab luarnya.
  • Pendekatan yang keempat termasuk pendekatan instrinsik, yaitu pendekatan yang berusaha menafsirkan dan menganalisis karya sastra itu sendiri.

 

  1. Hindu, Buddha, dan Islam

 

Penjelajahan terhadap naskah-naskah nusantara lewat katalogus dan karya-karya ilmiah  memberikan kesan bahwa  naskah-naskah itu diwarnai oleh pengaruh-pengaruh agama Hindu, Buddha, dan Islam, seperti hasil karya Hamzah Fansuri, Syamsuddin Samatrani, Nuruddin Arraniri, dan lain-lain. Dapat dimaklumi apabila pengetahuan tentang agama Hindu, Buddha dan Islam benar-benar diperhatikan sebagai bekal penanganan sebagian besar naskah-naskah nusantara, terutama naskah-naskha yang berisi keagamaan yang biasa disebut sastra kitab.

 

  1. Sejarah Kebudayaan

 

Khazanah sastra nusantara disamping diwarnai oleh pengaruh agama, juga memperlihatkan adanya pengaruh sastra klasik India dan Arab, seperti Ramayana dan Mahabharata muncul dalam sastra Jawa kuna yang kemudian disadur kedalam bahasa Jawa kuna, Jawa tengahan, dan Jawa baru. Untuk pendekatan historis terhadap karya-karya lama nusantara  diperlukan pengetahuan sejarah kebudayaan, dalam hali ini kebudayaan Hindu dan Islam.Lewat sejarah kebudayaan akan diketahui pertumbuhan dan perkembangan unsur-unsur budaya suatu bangsa, antara lain, system kemasyarakatan, kesenian, ilmu pengetahuan, dan agama. Sebagai contoh, silsilah raja Jawa terdapat unsur Islam (nama-nama nabi), mitologi Hindu (dewa-dewa) dan epos Hindu (tokoh-tokoh wayang). Demikian juga dapat ditafsirkan keganjilan-keganjilan yang terdapat di dalam genealogi raja-raja Melayu, seperti silsilah raja ditarik keatas sampai kepada nenek moyang yang kelahirannya tidak wajar, yaitu lahir dari buih, bamboo, atau turun dari langit.

 

  1. Antropologi

            Penggarapan naskah tidak lepas dari konteks masyarakat dan budaya yang melahirkannya. Karena ini ahli filologi dapat memanfaatkan hasil kajian atau metode antropologi sebagai suatu ilmu yang berobjek penyelidikan manusia dipandang dari segi fisiknya, masyarakatnya, dan kebudayaannya. Masalah yang berkaitan erat dengan antropologi misalnya sikap masyarakat terhadap naskah yang sekarang masih hidup, terhadap naskah yang dimilikinya, apakah naskah itu dipandang sebagai benda keramat atau sebagai benda biasa.

            Karya-karya pujangga keraton yang sekarang tersimpan diperpustakaan keraton Surakarta dan Yogyakarta tampak dikeramatkan seperti benda-benda pusaka dan pengeramatan atau penghormatan terlihat dari istilah yang dipakai untuk tindakan penyalinan naskah yaitu mutrani. Makna harfiah istilah ini ‘membuat putra’, diturunkan dari kata putra yang mengandung konotasi rasa hormat. Selanjutnya hasil mutrani ini disebut putran yaitu naskah kopi. Kecuali itu ada naskah-naskah magis yang pendekatannya memerlukan informasi antropologis, misalnya naskah-naskah yang mengandung teks-teks mantera, ada juga naskah yang oleh penyalinnya dikatakan dapat menghapus dosa pembacanya apabila dibaca sampai tamat, misalnya teks Hikayat Nabi Bercukur.

  1. Folklor

            Folklor telah ada sejak pertengahan abad ke-19. Unsur-unsur budaya yang dirangkumnya secara garis besar dapat digolongkan menjadi dua, yaitu pertama golongan unsur budaya yang materinya bersifat lisan antara lain mitologi, legende,cerita asal-usul, dongeng, mantera, tahayul,teka-teki, peribahasa,drama tradisional. Golongan unsur budaya yang kedua berupa upacara-upacara antara lain adalah upacara yang mengiringi kelahiran, perkawinan, kematian. Dan dengan demikian yang erat kaitannya dengan filologi terutama adalah golongan yang pertama. Golongan ini mencakup unsur-unsur budaya yang biasa disebut sastra lisan, terutama sastra lisan yang termasuk cerita rakyat.

            Dari uraian tentang foklor secara singkat tersebut, jelaslah bahwa foklor erat kaitannya dengan filologi karena banyak teks lama yang mencerminkan unsur-unsur foklor, misalnya teks-teks yang termasuk jenis sastra sejarah atau babad. Unsur-unsur foklor yang tampak jelas dalam teks jenis ini antara lain: mite, legende, dan cerita asal-usul. Dalam Babad Tanah Jawi misalnya, terdapat mitologi Hindu dan legende Watu Gunung (dalam episode yang menceritakan silsilah raja-raja jawa), dan mite tentang Nyai Rara Kidul.

  1. B.     Filologi Sebagai Ilmu Bantu Ilmu-Ilmu Lain

Telah diketahui bahwa objek kajian filologi ialah naskah lama sedangkan hasil kegiatannya adalah berupa suntingan naskah. Dalam proses penyajian teks itulah filologi bertindak sebagai ilmu bantu bagi ilmu-ilmu lain yang menggunakan naskah lama sebagai objek penelitian. Beberapa di antaranya ialah linguistik, sastra, lmu sejarah, sejarah kebudayaan, ilmu hukum adat, ilmu agama, ilmu filsafat. Hubungan antara filologi dan ilmu lain akan diuraikan dibawah ini.

  1. Filologi sebagai ilmu bantu linguistik

Pada umumnya ahli linguistik mempercayakan pembacaan teks-teks lama pada ahli filologi. Dari hasil mereka inilah ahli linguistik menggali dan menganalisis seluk-beluk bahasa tulis yang pada umumnya tidak familiar seperti bahasa sehari-hari.  Hasil kajian linguistik ini kelak juga akan dimanfaatkan oleh penggarap naskah lama.

  1. Filologi sebagai ilmu bantu sastra

Bantuan filologi terhadap ilmu sastra terutama pada penyediaan suntingan naskah lama dan hasil pembahasan teks yang dapat dimanfaatkan sebagai penyusunan sejarah sastra ataupun teori sastra.

  1. Fiologi sebagai ilmu bantu sejarah kebudayaan

Selain mengumpulkan naskah lama, filologi banyak mengungkap warisan nenek moyang seperti kepercayaan, adat-istiadat, kesenian,dll. Lewat pembacaan naskah lama dapat ditemukan tentang informasi mengenai budaya yang sekarang telah punah, misalnya istilah untuk unsur-unsur budaya seperti  mata uang.

  1. Fiologi sebagai ilmu bantu ilmu sejarah

Naskah- naskah Nusantara yang berisi teks sejarah yang jumlahnya cukup banyak, misalnya Negarakertagama, Babad  Tanah Jawi dll. Suntingan naskah ini melalui pengkajian filologis yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber sejarah. Teks-teks semacam itu sangat berguna untuk melengkapi informasi sejarah yang terdapat didalam sumber lain, misalnya nisan, prasasti dan candi.  Ilmu sejarah juga dapat dimanfaatkan untuk suntingan teks lain, khususnya teks-teks lama yang dapat memberikan informasi tentang kehidupan masyarakat yang jarang ditemukan didalam sumber-sumber lain.

  1. Fiologi sebagai ilmu bantu hukum adat

Manfaat filologi bagi ilmu hukum adat sama  bagi ilmu-ilmu lain. Banyak naskah Nusantara yang merekam adat istiadat. Dalam sastra Nusantara terdapat teks yang memang dimaksudkan sebagai hukum, dalam masyarakat melayu disebut undang-undang. Undang-undang dalam masyarakat melayu sebetulnya merupakan adat yang terbentuk dalam masyarakat sesuai dengan berjalannya waktu, bukan berarti seluruh peraturan dibuat oleh penguasa.

  1. Fiologi sebagai ilmu bantu sejarah perkembangan agama

Banyak naskah Nusantara yang mengandung teks keagamaan. Suntingan naskah terutama naskah yang mengandung teks keagamaan dan hasil pembahasan kandungannya akan menjadi bahan penulisan  perkembangan agama. Dari teks semacam itu akan diperoleh gambaran antara lain: perwujudan perkembangan agama, pencampuran agama Hindu, Budha, dan islam dengan kepercayaan yang hidup didalam masyarakat, permasalahan aliran yang masuk ke Nusantara.

  1. Fiologi sebagai ilmu bantu filsafat

Penggalian filsafat dari teks-teks sastra Nusantara agaknya masih belum banyak dilakukan meskipun jumlah suntingan naskah sudah cukup tersedia. Sumbangan filologi kepada filsafat terutama berupa suntingan naskah disertai translitasi dan terjemahan ke dalam bahasa nasional yang selanjutnya dapat dimanfaatkan oleh ahli filsafat. [1]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Kedudukan filologi di antara imu-ilmu lain adalah sebagai:

  1. Ilmu bantu bagi filologi. Ilmu bantu yang dimaksud  dalam menerjemahkan naskah – naskah  kuno adalah seperti linguistik, pengetahuan bahasa-bahasa yang mempengaruhi bahasa teks, paleografi, ilmu sastra, hindu budha dan islam, sejarah kebudayaan, antropologi,folklor.
  2. Filologi Sebagai Ilmu Bantu Ilmu-Ilmu Lain. Fungsi  filologi antara lain:
  • Filologi sebagai ilmu bantu linguistik
  • Filologi sebagai ilmu bantu sastra
  • Fiologi sebagai ilmu bantu sejarah kebudayaan
  • Fiologi sebagai ilmu bantu ilmu sejarah
  • Fiologi sebagai ilmu bantu hukum adat
  • Fiologi sebagai ilmu bantu sejarah perkembangan agama
  • Fiologi sebagai ilmu bantu filsafat

 

  1. B.     Saran

Dalam pembuatan makalah, pemakalah hanya menemukan hubungan timbal balik antara filologi dengan ilmu lain dan sebaliknya tidak begitu nampak sehingga masih menyisakan kebingungan. Sarannya, pemakalah dapat menemukan hubungan yang nyata dan terperinci disertai contoh-contoh nyatanya agar tidak membingungkan ketika mempelajari kedudukan ilmu filologi dengan ilmu-ilmu lain.

 

DAFTAR PUSTAKA

Siti Baroroh Baried, dkk. 1994. “Pengantar Teori Filologi”. Badan Penelitian dan Publikasi Fakutas Seksi Filologi Fakultas Sastra Uneversitas Gajah Mada, Yogyakarta.

DDAFTARalam rangka mengungkapkan bentuk mula suatu teks yang tersimpan dalam naskah, kerjappppeeee filologi berhubungan dengan berbagai studi tentang berbagai faktor yang terkait denganppppaskah dan teks. Dengan demikian, dalam kaitannya dena ek a teks, m banyak berka SEJARAH PERKEMBANGAN FILOLOGI

DI EROPA DARATAN DAN TIMUR TENGAH

 

Makalah ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Philology

Dosen Pengajar: Afiati Handayu Diyah Fitriyani, S.Pd, M.Pd.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh :

                                          

  1. Muhamad Faozan Akrom            (09150009)
  2. Sri Rahayu                                    (09150024)
  3. Vina Jamilaturahma                      (09150034)
  4. Ayutya Kris Hartati                     (10150013)

 

 

SASTRA INGGRIS

FAKULTAS ADAB DAN ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA

 YOYGAKARTA

2012

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Ilmu filologi Yunani lama merupakan ilmu penting yang menyajikan kebudayaan Yunani lama yang tetap berperan dalam memperluas dan memperdalam pengetahuan mengenai sumber dari segala ilmu pengetahuan. Dalam segala bidang kehidupan, dapat dirasakan unsur-unsur yang berakar pada kebudayaan Yunani Lama yang aspek-aspeknya tersimpan dalam naskah-naskah lama milik bangsa itu. Diantara cabang ilmu yang mampu membuka aspek-aspek tersebut adalah ilmu filologi. Kebudayaan Yunani Lama tidak hanya berpengaruh di dunia Barat, tapi berpengaruh juga dibagian dunia yang lain, seperti kawasan Timur Tengah.

 

Sejarah perkembangan ilmu filologi terjadi mulai dari kawasan Yunani, lebih tepat Iskandariah dan mulai berkembang ke daerah Eropa daratan hingga sampai ke kawasan Timur tengah. Dalam perkembangannya, kajian filologi mengalami berbagai kemajuan karena banyaknya kegiatan yang menggunakan dasar ilmu filologi. Perkembangan ilmu filologi di kawasan Eropa Daratan dan Timur Tengah akan di uraikan pada bab pembahasan.

 

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Perkembangan ilmu filologi di kawasan Eropa Daratan?

2. Bagaimana Perkembangan ilmu filologi di kawasan Timur Tengah?

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Filologi di Eropa Daratan

1. Awal Pertumbuhannya

Ilmu filologi berkembang di kawasan kerajaan Yunani, yaitu di kota Iskandariyah di benua Afrika pantai utara. Awal kegiatan filologi di kota Iskandaria oleh bangsa Yunani pada abad ke-3 S.M. dengan membaca naskah Yunani lama yang mulai ditulis pada abad ke-8 S.M. dalam huruf Yunani kuno (Huruf bangsa Funisia). Naskah itu berkali-kali disalin sehingga mengalami perubahan dari bentuk aslinya. Para penggarap naskah-naskah itu dikenal dengan ahli filologi, di cetus oleh Eratosthenes. Para ahli filologi memiliki ilmu yang luas karena dalam memahami isi naskah perlu mengetahui huruf, bahasa, dan ilmu yang dikandungnya. Dan kemudian menuliskannnya kembali sehingga dapat diketahui oleh masyarakat pada waktu itu.

Metode yang digunakan untuk menelaah naskah dikenal dengan ilmu filologi. Metode taraf awal berkembang dari abad ke abad hingga kini. Para ahli menguasai ilmu dan kebudayaan Yunani lama yang dikenal dengan aliran Iskandariyah. Naskah yang ditulis oleh para budak belian yang diperdagangkan di sekitar laut tengah ini bertujuan untuk kegiatan perdagangan. Namun sering terjadi penyimpangan karena tidak memiliki kesadaran terhadap nilai keotentikan naskah lama. Oleh karena itu perlu adanya perbaikan yang musti dilakukan oleh ahli filologi. Kerusakan atau kekorupan bahasa terjadi karena ketidaksengajaan, bukan ahli dalam ilmu yang ditulis, atau karena keteledoran penyalin.

Sesudah Iskandariyah jatuh ke dalam kekuasaan Romawi, kegiatan filologi berpindah ke Eropa selatan, berpusat di kota Roma dengan melanjutkan filologi Yunani (meneruskan mazhab Iskandariyah) yang tetap menjadi bahan telaah utama dan bahasa Yunanai tetap digunakan. Pada abad ke-1 perkembangan tradisi berupa pembuatan resensi terhadap naskah berkelanjutan hingga pecahnya kerajaan Romawi pada abad ke-4 menjadi kerajaan Romawi Barat dan Romawi Timur. Dan mempengaruhi perkembangan filologi selanjutnya.

 

 

2. Filologi di Romawi Barat dan Romawi Timur

a)      Filologi di Romawi Barat Penggarapan di arahkan kepada naskah-naskah dalam bahasa latin yang berupa puisi dan prosa, sejak abad ke-3 telah digarap secara filologi. Bahasa latin menjadi bahasa ilmu pengetahuan. Adapun telaah naskah keagamaan yang dilakukan oleh pendeta dan berakibat pada naskah Yunani yang mulai ditinggalkan, bahkan dipandang naskah yang berisikan paham jahiliyah sehingga terjadi kemunduran.

 

b)      Filologi di Romawi Timur Telah muncul pusat-pusat teks Yunani, misalnya di Antioch, Athena, Iskandariyah, Beirut, Konstaninopel, dan Gaza. Selanjutnya berkembang menjadi perguruan tinggi. Dalam periode itu mulailah muncul tafsir pada tepi halaman naskah, disebut dengan scholia.

3. Filologi di zaman Renaisans

Filologi di Zaman Renaisan Renaisans di mulai dari Italia pada abad ke-13, menyebar ke negara Eropa lainnya dan berakhir pada abad ke-16. Dalam arti sempit renaisan adalah periode yang di dalamnya kebudayaan klasik diambil lagi sebagai pedoman hidup; dan dalam arti luas adalah periode yang di dalamnya rakyat cenderung kepada dunia Yunani klasik atau kepada aliran humanisme . Pada abad ke-15 jatuhnya kerajaan Romawi Timur ke tangan bangsa Turki dan ahli filologi berpindah ke Eropa Selatan (Roma). Penemuan mesin cetak di Gitenberg (Jerman) menyebabkan perkembangn baru dalam bidang filologi. Di Eropa, filologi diterapkan untuk telaah naskah lama nonklasik. Abad ke-19 ilmu bahasa atau linguistik berkembang menjadi ilmu yag berdiri sendiri, terpisah dari ilmu filologi. Pada abad ke-20 pengertian filologi di Eropa daratan tetap seperti semula ialah telaah teks klasik, sedangkan di kawasan Angio-Sakson berubah menjadi linguistik.[2]

B. Filologi di Kawasan Timur Tengah

Negara Timur Tengah mendapatkan ide filsafati dan ilmu eksakta terutama dari bangsa Yunani lama. Sejak abad ke-4 beberapa kota di Timur Tengah telah memiliki perguruan tinggi, pusat studi berbagai ilmu pengetahuan yang berasal dari Yunani. Seperti Gaza sebagai pusat ilmu oratori, Beirut dalam bidang hukum, Edessa dalam kebudayaan Yunani pada umumnya, demikian pula di Antioch. Karena pada abad ke-5 kota Edessa dilanda perpecahan gerejani maka banyaklah ahli filologi berasal dari kota dan pindah ke kawasan Persia. Oleh kaisar Anusyirwan mereka disambut baik dan diberi kedudukan ilmiah di Akademi Jundi Syapur, pusat studi ilmu filsafat dan ilmu kedokteran. Dalam lembaga ini banyak naskah Yunani diterjemahkan kedalam bahasa Siria dan kedalam bahasa Arab.

 

Pada dinasti Abasiyah, dalam pemerintahan Khalifah Mansur (754-775), Harun Alrasyid (786-809), dan Makmum (809-833) studi naskah Yunani semakin berkembang dan berpuncak pada pemerintahan Makmum. Pada waktu itu dikenal tiga penerjemah, yaitu Qusta bin Luqa, Hunain bin Ishaq, dan Hubaisyi yang ketiganya beragama nasrani. Hunain yang peling luas pengetahuannya, menguasai bahasa Arab, Yunani, Persia, bahasa ibunya adalah bahasa Arab. Sejak berumur tujuh tahun, ia sudah menjadi penerjemah kedalam bahasa-bahasa tersebut. Keterampilannya itu diperoleh saat ia tinggal di kota yang multilingual. Pada waktu itu masih banyak tersimpan didaerahnya naskah-naskah Yunani, dan Hunain rajin mencari naskah lama Yunani sampai ke Mesir, Siria, Palestina, Mesopotan.

 

Disamping melakukan telaah terhadap naskah-naskah Yunani, para ahli filologi dikawasan Timur Tengah juga menerapkan teori filologi terhadap naskah-naskah yang dihasilkan oleh penulis-penulis dari daerah itu. Bangsa-bangsa di Timur Tengah memang dikenal sebagai bangsa yang memiliki dokumen lama berisi nilai yang agung, seperti karya tulis yang dihasilkan oleh bangsa Arab dan Persi. Sebelum kedatangan Islam, dalam bentuk prosa dan puisi, misalnya Mu’allaqat dan Qusidah pada bangsa Arab.

Pada abad ke-10 hingga abad ke-13, karya sastra mistik Islam berkembang semakin maju, misalnya Mantigal-Tair susunan Farid al-Din al-Tar, Mathnawi I Ma’nawi karya Jalal al-Din al-Rumi. Puisi penyair Persi terkenal, Umar Khayyam, serta cerita Seribu Satu Malam hingga saat ini masih dikenal di dunia berat, dan berkali-kali diterjemahkan dalam bahasa Barat dan bahasa Timur.

Meluasnya kekuasaan dinasti Umayah ke Spanyol dan Andalusia pada abad ke-8 sampai abad ke-15 membuka dimensi baru bagitelaah karya tulis dari kawasan Timur Tengah yang masuk ke Eropa daratan pada waktu itu. Banyak karya sastra Arab dan Persi yang dikenal di Eropa dalam periode kekuasaan dinasti Umayah di Eropa. Orientalis yang terkenal pada waktu itu adalah Albertus Magnus, ahli filsafat Aristoteles melalui tulisan-tulisan Al-Farabi, Ibnu Sina dan Al-Gazhali, dia mengajar pada abad ke-12.

Sedangkan pada abad ke-13, Roger Bacon dan Raymond Luli belajar bahasa Arab dan Persi untuk mempelajari ilmu filsafat Yunani. Dan pada waktu itu pula, di pusat studi Montpillier, dilakukan penerjemahan karya tulis Ibnu Rusyd dan Ibnu Sina kedalam bahasa Latin.

Pada abad ke-17, telaah teks klasik Arab dan Persi di Eropa telah dipandang mantap terutama di Cambridge dan Oxford. Selain naskah Arab, naskah Turki, Ibrani dan Siria juga sudah mulai dipelajari.

Pada akhir abad ke-18, di Paris didirikan pusat studi kebudayaan ketimuran oleh Silvester de Sacy dengan nama Ecole des Langues Orientales Vivantes. Di pusat studi kebudayaan itu, banyak dipelajari naskah dari Timur Tengah oleh ahli kawasan Eropa. Serta di pusat studi kebudayaan tersebut lahirlah ahli orientalis Eropa terkemuka dengan karangan yang bermutu.

Mereka antara lain Etienne Quatremere (1782-1857) telah menerjemahkan Tarikh al-Mamalik, karya Al-Maqrizi serta Muqaddimah Ibnu Khaldun dalam bahasa Perancis dan menerbitkan naskahnya dalam bahasa Arab; de Slane. De Sacy dipandang sebagai Bapak orientalis di Eropa karena Ecole des Langues Orientalis Vivantes lahir banyak orientalis Eropa yang banyak karyanya dalam bidang telaah karya tulis kawasan Timur Tengah pada umumnya.[3]

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Dari uraian tentang perkembangan ilmu filologi diatas, dapat disimpulkan bahwa ilmu filologi pada awalnya berkembang di kawasan iskandariyah dan menyebar ke kawasan Eropa Daratan seperti Romawi Barat dan Romawi Timur serta di kawasan Italia pada masa renainsans tepatnya pada abad ke-13 M. Di kawasan tersebut ilmu filologi lebih diprioritaskan untuk menganalisa naskah-naskah kuno dalam bahasa latin yang berupa prosa dan puisi, begitupula pada masa renaisans, ilmu filologi digunakan untuk menganalisa teks-teks klasik yang isinya mengandung ilmu keagamaan, filsafat, hokum, sejarah, bahasa, kesastraan dan kesenian.

Sedangkan perkembangan ilmu filologi di kawasan Timur Tengah, lebih digunakan untuk mengkaji naskah-naskah Yunani. Dari pengkajian tersebut bangsa Timur Tengah mendapatkan banyak ilmu baru seperti filsafat dan eksakta. Kajian filologi di kawasan Timur Tengah berkembang dari masa khalifah yang satu ke masa khalifah yang lain.

 

 

Daftar Pustaka

Baried, Siti Baroroh, dkk. 1994. Pengantar Teori Filologi. UGM Press. Yogyakarta.

                                         

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

itan d BAB 1 PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Ilmu filologi Yunani lama merupakan ilmu penting yang menyajikan kebudayaan Yunani lama yang tetap berperan dalam memperluas dan memperdalam pengetahuan mengenai sumber dari segala ilmu pengetahuan, namun tidak hanya berpengaruh dalam dunia barat tetapi juga kawasan timur tengah, Asia dan asia Tenggara, dan kawasan Nusantara. Ilmu filologi pun berakar pada kebudayaan Yunani kuno.[4]

 

  1. Rumusan Masalah
    1. Bagaimana perkembangan filologi di kawasan Asia; India?dan,
    2. Bagaimana perkembangan filologi di kawasan Nusantara?

BAB II PEMBAHASAN

C. Filologi di Kawasan Asia : India

Benua Asia merupakan kawasan yang memiliki peradaban yang tinggi. Semenjak bangsa-bangsa tersebut mengenal huruf, sebagian besar dari kebudayaan mereka di tulis dalam bentuk naskah. Bangsa Asia yang di pandang memiliki cukup dokumen peninggalan masa lampau dan telah dapat membuka kebudayaannya adalah India. Keluhuran bangsa India telah terungkap, terutama penelitian terhadap dokumen berupa prasasti. Kontak langsung dengan Bangsa Yunani, terjadi pada Raja Iskandar Zulkarnain sampai ke India pada abad ke-3 S.M kebudayaan India di daerah Gandhara. Patung Budha yang di temukan di Gandharadi pahat seperti patung apolo memakai jubah tebal. Perpaduan antara kebudayaan Yunani, Hindu, Budha dan Jaina dinamakan kebudayaan Gandhara dan kebudayaan ini mencapi puncaknya pada zaman Raja Kaniska Kusana pada tahun ke- 78-100. Filsafat Yunani telah mempengaruhi sistem filsafat India Nyana dan Waisesika; doktrin Aristoteles telah mempengaruhi silogisme India, serta teori atom Empedocles berpengaruh pada hukum atom india.

Abad ke- 1 terjadi kontak langsung antara bangsa India dan Cina. Pendeta budha mengadakan perjalanan dakwah ke Cina dan sebaliknya. Terdapat 3 musafir  yang dicatat  dalam sejarah India, mereka ialah Fa-hian berkunjung pada tahun 399, Hiuen-tsing tahun 630-465, dan I-tsing tahun 671-695. Mereka menterjemahkan naskah india ke bahasa cina, bahkan I-tsing meringkas delapan bab ilmu kedokteran india dalam bahasa Cina.

Dokumen sastra yang merupakan adanya kontak langsung antara India dengan Persi antara lain karya sastra India Pancatantra dalam kebudayaan Persi, yang digubah abad ke-3 oleh seorang Waisynawa atas perintah  Kaisar Anusyirwan dari dinsti sasaniah (531-579). Kaisar ini mengirimkan Burzue ke India untuk menterjemahkakan naskah pancatantra. Seterusnya versi pancatantra disalin dalam bahasa persi tengahan dan persi baru. Abdullah Ibn Muqaffa menterjemahkan ke dalam bahasa arab dengan judul Kalila Wa Dimna. Terjemahan karya sastra India yang lain ke dalam bahasa persi, misalnya Sukasaptati.

Jadi dapat disimpulkan bahwa kontak langsung bangsa India dengan Bangsa Persi, berdasarkan telaah filologi terjadi paling awal abad ke- 6 ialah abad di salinnya Pancatantra ke dalam bahasa Persi. Alberuni (musafir Arab-Persi) mengunjungi India dn menulis tentang aspek kebudayaan India, seperti filsafat, kesastraan, tata bahasa dan ilmu kedokteran. Mungkin Alberunilah yang pertama mempelajari naskah India untuk mempelajari kebudayaannya.

  1. Naskah-naskah India

Naskah India yang di pandang paling tua adalah kesastraan weda, kitab suci agama hindu yang mengandung 4 bagian : Regweda, samaweda, Yajurweda, dan Atarwa-weda disusun pada abad ke-6 SM. Setelah periode weda disusunlah naskah lain : Kitab suci Brahmana, kitab Aranyaka, dan kitb Upanisad. Isi kitab Weda : kepercayaan terhadap dewa, penyembahan terhadap mereka secara ritual, mantra-mantra yang mengiringi upacara keagamaan hindu, dan ilmu sihir. Isi kitab Brahmana : cerita mengenai penciptaan dunia dan isinya, cerita para dewa, dan cerita mengenai persajian. Aranyaka berisi : petunjuk bagi petapa yang menjalani kehidupan dalam hutan-hutan. Dan Upanisad berisi : masalah filsafat yang memikirkan rahasia dunia.

Disamping naskah bernafaskan agama dan filsafat, naskah lama India juga berisi  wiracarita, misalnya : Mahabharata dan Ramayana, karya tulis Kawya (penyair andalan), seperti Harasacarita gubahan penyair Bana, Buddhacarita gubahan Aswagosa; cerita binatang atau fabel seperti  pancatantra, sukasaptati, Hitopodesa, karya drama; serta karya yang berisi ilmu pengetahuan seperti ilmu kedokteran, ilmu tatabahasa, ilmu hukum dan ilmu politik.

 

2. Filologi terhadap Naskah-naskah India

            Naskah-naskah India yang berisi berbagai aspek kebudayaan baru mulai ditelaah semenjak kedatangan bangsa Barat di kawasan itu ialah setelah ditemukan jalan laut ke India oleh Vasco da Gama pada tahun 1498. Mereka menemukan kebudayaan India, bagian mutakhir lebih dahulu. Mula-mula dikenal oleh mereka adanya bahasa-bahasa daerah, seperti bahasa Gujarati, bahasa Bangali pada abad-abad sebelum abad ke-19, baru pada awal abad ke-19 mengetahui tentang bahasa Sansekerta, dan pada akhir abad ke-19 baru dapat ditemukan kitab-kitab Weda. Hasil kajian filologi terhadap naskah-naskah tersebut mulai dipublikasikan oleh seorang Belanda bernama Abraham Roger berjudul Open Door to Hidden Heathendom pada tahun 1651. Dia pernah tinggal di Madras sebagai penyiar agama Nasrani an karangannya itu berisi uraian mengenal ajaran kitab suci Brahmana dan sebuah ikhtisar puisi penyair Bhratihari. Kemudian terbit karangan dua orang Prancis bernama Bernier (1671) dan Tafernier (1677) mengenal geografi, politik, adat istiadat, serta kepercayaan bangsa India.

            Tatabahasa sansekerta mula-mula ditulis oleh Hanxleden, seorang pendeta berbangsa Jerman, dalam bahasa Latin. Karangan ini diterbitkan di Roma oleh seorang penginjil  berbangsa Austria bernama Fra Paolo Bartolomeo pada tahun 1790, yang pernah tinggal di Malabar pada tahun 1776-1789.

            Bangsa Inggris baru pada abad ke-18 memulai kegiatan filologi di India, ialah diawali dengan hasrat gubernur jendral Warren Hastings menyusun kitab hukum berdasarkan hukum yang ditulis dalam naskah-naskah lama bangsa India sendiri. Hukum dalam naskah-naskah ini lalu digalinya dan kemudian diterbitkan pada tahaun 1776 di London. Pada tahun 1784 sebuah wadah kegiatan filologi bernama The Asia Society didirikan di Bengal oleh para orientalis Inggris yang saat itu sedang bekerja di India. Di antara mereka ada tiga orang yang memajukan kegiatan tersebut, ialah Sir Charles Wikins, Sir William Jones, dan Henry Thomas Colebrooke. Wilkins menguasai bahasa sansekerta, berhasil menerjemahkan Bhagawatgita berjudul Song of The Adorable One pada tahun 1785, menerjemahkan Hitopadesa pada tahun 1787 ke dalam bahasa Inggris, dan pada tahun 1808 menyusun tatabahasa Sansekerta. William Jones yang menjabat ketua mahkamah tinggi di Bengal sejak tahun 1783.Mendirikan The Asia Society di Calcutta dan pada tahun 1794.

 

D. Filologi di Kawasan Nusantara

Nusantara adalah termasuk Asia Tenggara. Kawasan ini, sebagai kawasan Asia pada umumnya, sejak kurun waktu yang lama memiliki peradaban yang tinggi dan mewariskan kebudayaannya kepada anak keturunannya melalui berbagai media, antara lain media tulisan yang berupa naskah-naskah. Kawasan Nusantara terbagi dalam banyak kelompok etnis, yang masing-masing memiliki bentuk kebudayaan yang khas, tanpa meninggalkan sifat kekhasan kebudayaan Nusantara. Kekayaan Nusantara akan naskah-naskah lama akan dibuktikan dengan jumlah koleksinya yang dewasa ini terdapat di berbagai pusat studi kebudayaan Timur pada umumnya.

  1. Naskah Nusantara dan Para Pedagang Barat

Hasrat mengkaji naskah-naskah Nusantara mulai timbul dengan kehadiran bangsa Barat di kawasan ini pada abad ke-16. Pertama-tama yang mengetahui mengenal adanya naskah-naskah lama itu adalah para pedagang. Mereka menilai naskah-naskah lama itu adalah para pedagang. Mereka menilai naskah-naskah it sebagai barang dagangan yang mendatangkan untung besar, seperti yang mereka kenal di benua Eropa dan di sekitar laut tengah, serta daerah-daerah lain yang pernah ramai dengan perdagangan naskah kuno atau naskah lama. Maka para pedagang tersebut lalu mengumpulkan naskah-naskah itu dari perorangan atau kepada lembaga-lembaga yang telah memiliki koleksi naskah-naskah lama. Seterusnya naskah-naskah itu selalu berpindah tangan karena dijual atau dihadiahkan.

  1. Telaah Naskah Nusantara oleh Para Penginjil

Pada tahun 1629 terbitlah terjemahan Alkitab yang pertama dalam bahasa Melayu oleh Jan jacobsz Palenstain, sedang penerjemahnya Albert Cornelisz Ruil dengan judulnya Het Nieuwe testament (…) in nederduyts ende Malays, na de Grieckscher waarheyt overgeset –Jang Testamentum Baru (…) bersalin kepada Bassa Hulanda daan Bassa Malayu, seperti Jang Adillan bassa Gregu. Seorang penginjil yang menaruh minat kepada naskah-naskah Melayu adalah Dr. Melchior Leijdecker (1645-1701). Namun baru setelah sepeninggalannya terjemahan Bieblenya terbit. Penerbitan pertama tahun 1835. Pada tahun 1691 atas perintah dewan gereja belanda ia menyusun terjemahan beible dalam bahasa melayu tinggi sehingga ia harus memperdalam bahasa melayu. Sampai ia meninggal terjemahan belum selesai lalu diselesaikan oleh Petrus van den Vorm (1664-1731). Ia datang tahun 1685 sebagai pendeta di maluku lalu berpindah tinggal di jakarta. Ia mengusai bahasa ibrani dan bahasa timur lainnya.

Francois valentijn (1660-1731) seorang pendeta di maluku tahun 1685 yang berpendidikan Teologi dari universitas Laiden. Karyanya yang ensiklopedik yang berjudul Oud en Nieuw Oost Indien, vervattende een nauwkenige en uitvoerige verhandelinge van nederlandse mogentheyd in die gawesten (1726).penginjil yang terkenal akrab dengan bahasa dan kesusastraan Melayu adalah G.H. Werndly. Dengan karya Maleische Spraakkurnst terbit tahun 1736.

Kedudukan VOC melemah dan pembelajaran naskah kono juga berkurang. Usaha penyebaran Alkitab diteruskan oleh Zending dan Bijbelgenootschap. Karena berbagai kesulitan baru pada tahun 1814 dikirimlah penginjil Protestan G. Bruckner yang di tempatkan di Semarang untuk menyebarkan di pulau Jawa. Ia menrbitkan Alkitab dalam huruf Jawa pada tahun 1831. Tahun 1824 J.V.C. Gericke dikirim Nederlandsche Bijbelgenootsche (NBG) ditugaskan dalam bahasa Jawa sehingga dapat mengajarkan kepada warga sipil. Tahun1832 dibentuklah institut bahasa jawa yang bernama Javaansche Instituut. Tapi karena tidak maju lalu ditutup tahun 1834. Selain di jawa melayu NBG juga mengirim Herland (daerah Dayak), H.N. van der Tuuk ( Batak dan Bali), B.F. matthes ( Bugis dan Makasar), g.j grasuis, D,Koorders dan S.Cooslma( ketiganya di Sunda) serta L.E. Denninger(di Nias), mereka juga bertugas menpelajari bahasa daerah yang ditempatinya.

 Sesuai dengan teori filologi, sastra lisan termasuk kajian filologi, maka diantara penginjil ada yang mengkaji sastra lisan daerah yang didatanginya, karena kelompok etnis belum mengenal huruf sehingga budayanya masih disimpan dalam sastra lisan, seperti daerah Toraja oleh. N. Adriani dan Kruijt.

  1. Kegiatan Filologi terhadap Naskah Nusantara

Kehadiran NBG dengan bekal ilmu pengetahuan linguistik ke Indonesia mendorong tumbuhnya kegiatan untuk meneliti naskah-naskah Nusantara. Minat itupuun timbul pada para tenaga Belanda dan Inggris. Kajian ahli filologi bertujuan untuk menyunting, membahas serta menganalisis isinya dengan menggunakan metode intuitif atau diplomatik agar naskah itu dapat diketahui oleh golongan yang lebih luas.

Kajian ahli filologi terhadap naskah-naskah Nusantara bertujuan untuk menyunting, membahas, serta menganalisis isinya. Pada taraf awal kajian terhadap naskah-naskah tersebut terutama untuk tujuan penyuntingan, dikarenakan tenaga filologi yang masih sangat terbatas, dan diarahkan untuk naskah Jawa dan Melayu. Hasilnya pada umumnya berupa hasil suntingan yang disertai pendahuluan, tanpa analysis isinya. Misalnya suntingan Ramayana Kakawin oleh H. Kern (1900). Pada taraf ini biasanya menggunakan metode intuitif atau diplomatik.

Perkembangan selanjutnya, naskah disunting dalam bentuk transliterasi dalam huruf latin, misalnya Wrettasantjaja (1849), naskah jawa kuna oleh R.Th.A.Friederich. Kemudian dalam perkembangan filologi selanjutnya, suntingan naskah disertai terjemahannya dalam bahasa asing, terutama bahasa Belanda. Suntingan naskah pada abad ke 20 pada umumnya disertai terjemahan dalam bahasa Inggris atau Belanda, bahkan ada yang diterbitkan hanya terjemahannya.

Perkembangan filologi pada abad ke-20 banyak yang mengunakan metode kritik teks, dan terbitan jenis ini disertai terjemahan bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman. Misalnya Hikayat Seribu Masalah oleh Teeuw (1966). Pada abad ini juga muncul naskah lama yang sebelumnya pernah disunting dengan tujuan untuk menyempurnakannya, misalnya Primbon Jawa dari abad 19 oleh Gunning (1881), kemudian pada tahun 1921 disunting lagi oleh H. Kraemer dengan judul  Een Javaansche Primbon uit de Zestiende Eeuw, pada tahun 1954 diterbitkan lagi oleh G.W.J. Drewes dengan judul yang sama.

Pada abad 20 juga bnyak diterbitkan naskah-naskah keagamaan dan sejarah hingga isinya dapat dikaji oleh ahli ilmu tersebut dan dapat menghasilkan karya dari naskah-naskah tersebut. Telaah filologi terhadap naskah dari luar Jawa juga bnyak dilakukan, antara lain oleh H.T. Damste berjudul Hikayat Perang Sabil (1928). Selain itu juga mulai dirintis telaah naskah-naskah dengan analisis berdasarkan ilmu sastra (Barat), misalnya Hikayat Sri Rama (1980) oleh Achadiati Ikram. Pada dekade berikutnya dilakukan penelitian menggunakan analisis intertekstual, misal pada naskah yang dikerjakan oleh Hendrik M. Jan Maier berjudul Fragment of Reading: The Malay Hikayat Merong Mahawangsa (1985). Selain itu juga dilakukan penelitian dengan menggunakan analisis resepsi, misalnya Hikayat Iskandar Zulkarnain: Suntingan Teks dan Analisis Resepsi (1988)

Dengan telah dikenalinya dan tersedianya suntingan sejumlah naskah-naskah Nusantara maka terbukalah kemungkinan menyususn sejarah kesustraan Nusantara atau kesustraan daerah, selain juga telah mendorong minat untuk menyususn kamus bahasa-bahasa Nusantara.

Kegiatan filologi terhadap naskah-naskah Nusantara telah mendorong berbagai kegiatan keilmuan. Semua kegiatan tersebut telah dapat membuka kebudayaan bangsa dan telah mengangkat nilai-nilai luhur yang disimpan di dalamnya.

 

BAB III KESIMPULAN

Budaya India sangat menonjol dalam prasasti dan naskah. Iskandar Zulkarnain pernah ke India abad ke-3 SM berpengaruh pada naskah India. Ada pertemuan dengan Cina (I-tsing). Mahabharata dan Ramayana karya yang paling menonjol. Abad ke-18 mulai kegiatan filologi dan abad ke-19 banyak naskah india klasik yang terungkap, termasuk studi terhadap Weda. Hasrat filologi di Nusantara pada abad ke-16 dimulai melalui perdagangan. Tokoh: Dr.  Melchoir Leijdecker (pemula), G.H. Werndly (penghitung), Roorda van Eysinga (Guru Besar kemelayuan).

 

DAFTAR PUSTAKA

Baroroh Baried, Siti. 1994.  Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: Badan Peneliti dan publikasi fakultas (BPPF)

 

 

 

engan tekstologi (ilmu tentang tek Kerja filologi mula bantuan berbagai ang berkaitan dengan pengetahuan tentang unsur-unsur yang terkait dengan naskah, seperti bahan (kertas, kulit kayu, kulit binatang,daun papirus, dll.), tinta, tulisan, bahasa, dan yang berkaitan dengan teks yang menjadi kandungannya, seperti yang berupa budaya,sastra, sejarah, hukum, adat istiadat, dan berbagai  pengetahuan yang terkandung didalamnya.

Sebaliknya, dari hasil kerja filologi dapat diangkat sejumlah informasi tentang masa lampau yang berhubungan dengan faktor-faktor tersebut. Berangsa, misalnya, belum dapanggi sebelum diungkapkan melalui studi kerja filologi.

Keberad TEORI FILOLOGI DAN PENERAPANNYA 1:

PERSOALAN NASKAH DAN TEKS

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Philology

Dosen Pengampu : Afiati Handayu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh:

Fadhliah Anwar           (09150007)

Khoirul Havid              (09150014)

Ida Nurrokhimah         (10150030)

 

 

 

 

ENGLISH DEPARTEMENT

FACULTY OF LETTERS AND CULTURAL STUDIES

ISLAMIC STATE UNIVERSITY SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

2011

 

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb.

Segala  puji  hanya  milik  Allah. Tuhan seru sekalian alam. Sholawat  dan  salam  kepada  Rasulullah. Berkat  limpahan  rahmat-Nya  kami mampu  menyelesaikan  makalah ini. Kami selesaikan makalah ini sebagai tugas Philology dengan pembahasan tentang Teori Filologi dan penerapannya 1: Persoalan naskah dan teks.

Seperti yang kita ketahui karya-karya tulis masa lampau yang sering di sebut naskah atau teks merupakan objek kajian filologi. Karya-karya tulis tersebut merupakan peninggalan yang mampu menginformasikan buah pikiran, buah perasaan, dan informasi mengenai segi kehidupan seseorang yang pernah ada. Studi terhadap karya tulis masa lampau ini dilakukan karena diyakini mampu untuk mengungkap peninggalan sejarah yang didalamnya terkandung nilai-nilai kehidupan yang relevan dan bisa di jadikan pelajaran untuk masa sekarang ini. Karena naskah atau teks yang dikaji filologi adalah naskah atau teks masa lampau, maka tidak menutup kemungkinan bahwa teks itu rusak atau sudah tidak lengkap lagi. Berulang kali disalin pun tidak ada jaminan bahwa teks tersebut sama dengan aslinya. Mungkin seseorang dengan sengaja bisa merubah atau menambahi sedikit dari isinya dalam proses penyalinanya. Di sini filologi berperan serta untuk mengkaji naskah tersebut. Karena filologi merupakan salah satu disiplin ilmu yang berhubungan dengan karya tulis masa lampau.

Makalah ini tidak akan selesai tanpa adanya bantuan dari pihak lain. Oleh karena itu, ucapan terima kasih, kami ucapkan kepada seluruh pihak yang telah membantu, terutama kepada dosen pengampu mata kuliah Filologi Ibu Afiati Handayu yang telah memberikan bimbingan dalam penulisan makalah ini.

 Wassalamualaikum wr. wb

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.   Latar Belakang

Objek kajian filologi adalah naskah atau teks masa lampau. Karya-karya tulis masa lampau merupakan peninggalan yang mampu menginformasikan buah pikiran, buah perasaan, dan informasi mengenai segi kehidupan yang pernah ada. Kodikologi (Ilmu Kodeks) mempelajari seluk-beluk atau semua aspek naskah, yang antara lain bahan, umur, tempat penulisan, dan perkiraan penulis naskah. Kodeks mempunyai fungsi seperti buku yang tercetak sekarang. Teks berisi tentang ide-ide pengarang yang akan disampaikan kepada pembaca melalui alur, perwatakan, gaya bahasa dan sebagainya. Ilmu yang menyelidiki tentang teks adalah tekstologi.

 

  1. B.   Rumusan Masalah
    1. Apakah pengertian naskah itu?
    2. Istilah apasajakah yang biasa disebut naskah-teks diluar filologi?
    3. Apakah kodikologi itu?
    4. Pengertian teks dan ilmu yang menyelidiki tentang teks itu apa?

 

BAB  II

PEMBAHASAN

  1. A.    Masalah Naskah-Teks dalam Filologi
  2. 1.      Pengertian naskah

Objek penelitian filologi adalah tulisan tangan yang menyimpan berbagai ungkapan pikiran dan perasaan sebagai hasil budaya bangsa masa lampau.[5]

Beberapa pendapat mengenai pengertian naskah yaitu:

a.       Naskah adalah semua dokumen tertulis yang ditulis tangan, dibedakan dari dokumen cetakan atau perbanyakannya dengan cara lain. Kata ‘naskah’ diambil dari bahasa Arab nuskhatum yang berarti sebuah potongan kertas.

b.      Menurut Library and Information Science, suatu naskah adalah semua barang tulisan tangan yang ada pada koleksi perpustakaan atau arsip; misalnya, surat-surat atau buku harian milik seseorang yang ada pada koleksi perpustakaan.[6]

c.       Menurut Baroroh-Baried dalam Warsidi (2005: 9)

Naskah adalah semua bahan tulisan tangan dari bahasa Latin codex, jamaknya codices.

d.      Menurut Poerwadarminta dalam Kamus Besar Umum Indonesia

Naskah adalah karangan dan sebagainya yang masih ditulis dengan tangan, kopi (karangan dan sebagainya yang akan dicetak atau akan diterbitkan).

e.       Menurut Djamaris, 1997

Naskah dalam bahasa inggris disebut manuscript dengan singkatan ms untuk naskah tunggal dan mss untuk naskah jamak. Dalam bahasa Belanda disebut handscripft dengan singkatan hs untuk naskah tunggal dan hss untuk naskah jamak adalah semua peninggalan tertulis nenek moyang pada kertas lontar, kulit kayu dan rotan.[7]

Di Indonesia bahan naskah untuk karya Jawa Kuna disebutkan oleh Zoetmulder (Kalangwan, 1974) karas, semacam papan atau batu tulis, yang diduga oleh Robson hanya dipakai untuk sementara (h. 27); naskah Jawa memakai lontar (ron tal ‘daun tal’ atau ‘daun siwalan’), dan dluwang, yaitu kertas Jawa dari kulit kayu; naskah Bali dan lombok memakai lontar; naskah Batak memakai kulit kayu, bambu, rotan. Pada abad  ke-18 dan ke-19, kertas Eropa yang didatangkan dari Eropa menggantikan dluwang karena kualitasnya lebih baik untuk naskah di Indonesia. (Baried, 55)

 

  1. 2.      Istilah Naskah-Teks di luar konteks Filologi

Di era modern ini, kebanyakan teks sudah tidak ditulis tangan lagi melainkan sudah diketik dan diterbitkan. Dalam hal ini, naskah merupakan kopi atau teks bersih yang ditulis oleh pengarangnya sendiri, misalnya naskah disertasi dan naskah makalah. Di samping itu, naskah dan teks juga bisa diartikan sama. Misalnya naskah pidato dan teks pidato.

  1. a.      Beda naskah dan Prasasti

Ada beberapa perbedaan antara naskah dan prasasti walaupun mereka sama-sama ditulis dengan tangan. Perbedaan tersebut antara lain:

  1. Naskah pada umumnya berupa buku atau bahan tulisan tangan seperti yang sudah dijelaskan di atas. Prasasti berupa tulisan tangan dari batu (andesit, berporus, batu putih), batu bata, logam (emas, perak, tembaga), gerabah, marmer, kayu, dan lontar.
  2. Naskah pada umumnya panjang, karena memuat cerita lengkap. Prasasti pada umumnya pendek karena memuat soal-soal yang ringkas saja, misalnya pemberitahuan resmi mengenai pendirian bangunan suci, doa-doa suci penolak rintangan karma dan segala kejahatan, ketentuan dan penyelesaian hukum, asal-usul raja dari dewa (Airlangga dari Dewa Wisnu dalam prasasti Kalkuta), asal-usul suatu dinasti, misalnya prasasti Kutai memuat hal Raja Kudunga mempunyai anak bernama Sang Achwawarman, yang mempunyai anak tiga orang, yang sulung bernama Sang Raja Mulawarman. Ada kalanya prasasti hanya memuat nama orang atau nama jabatannya saja.
  3. Naskah pada umumnya anonim dan tidak berangka tahun. Prasasti sering menyebut nama penulisnya dan ada kalanya memuat angka tahun yang ditulis dengan angka atau sengkalan..
  4. Naskah berjumlah banyak karena disalin. Prasasti tidak disalin-salin sehingga jumlahnya relatif tidak banyak, kurang lebih 500 buah.
  5. Naskah yang paling tua Tjandra-Karana (dalam bahasa Jawa kuna) berasal kira-kira dari abad ke-8. Prasasti yang paling tua berasal kira-kira dari abad ke-4 (prasasti Kutai). (Baried, 55-56)
  6. b.      Kodikologi

Istilah kodikologi berasal dari kata Latin ‘codex’ (bentuk tunggal; bentuk jamak ‘codies’) yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi ‘naskah’–bukan menjadi ‘kodeks’. Sri Wulan Rujiati Mulyadi mengatakan kata ’caudex’ atau ‘codex’ dalam bahasa Latin menunjukkan hubungan pemanfaatan kayu sebagai alas tulis yang pada dasarnya kata itu berarti ‘teras batang pohon’. Kata ‘codex’ kemudian di berbagai bahasa dipakai untuk menunjukkan suatu karya klasik dalam bentuk naskah.

Hermans dan Huisman menjelaskan bahwa istilah kodikologi (codicologie) diusulkan oleh seorang ahli bahasa Yunani, Alphonse Dain, dalam kuliah-kuliahnya di Ecole Normale Seprieure, Paris, pada bulan Februari 1944. Akan tetapi istilah ini baru terkenal pada tahun 1949 ketika karyanya, ‘Les Manuscrits’ diterbitkan pertama kali pada tahun tersebut. Dain sendiri mengatakan bahwa kodikologi adalah ilmu mengenai naskah-naskah dan bukan mempelajari apa yang tertulis di dalam naskah. Dain juga menegaskan walaupun kata kodikologi itu baru, ilmu kodikologinya sendiri bukanlah hal yang baru. Selanjutnya Dain juga mengatakan bahwa tugas dan “daerah” kodikologi antara lain ialah sejarah naskah, sejarah koleksi naskah, penelitian mengenai tempat naskah-naskah yang sebenarnya, masalah penyusunan katalog, penyusunan daftar katalog, perdagangan naskah, dan penggunaan-penggunaan naskah itu.[8]

Setelah seni cetak ditemukan, kodeks berubah arti menjadi buku tertulis. Kodeks pada hakikatnya berbeda dengan naskah. Kodeks adalah buku yang tersedia untuk umum yang hampir selalu didahului oleh sebuah naskah. Kodeks mempunyai nilai dan fungsi yang sama dengan buku yang tecetak sekarang.

Dengan skema dapat digambarkan:

Konsep

 

Teks bersih (naskah)

 

Kodeks

 

Setelah ditemukan seni cetak:

 

   Konsep

 

        Teks bersih (kopi)

 

Cetakan

Teks bersih yang ditulis pengarang disebut otografi sedangkan salinan bersih oleh orang-orang lain disebut apografi. (Baried, 56-57)

  1. 3.      Pengertian Teks

Teks artinya kandungan atau muatan naskah, sesuatu yang abstrak yang hanya dapat dibayangkan saja. Perbedaan naskah dan teks menjadi jelas apabila terdapat naskah yang muda tetapi mengandung teks yang tua. Teks terdiri atas isi, yaitu ide-ideatau bentuk, yaitu cerita dalam teks yang dapat dibaca dan dipelajari menurut berbagai pendekatan melalui alur, perwatakan, gaya bahasa dan sebagainya. (Baried, 57)

  1. Tekstologi

Merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang seluk-beluk teks dan meneliti tentang penjelmaan dan penurunan teks sebuah karya sastra, penafsiran, dan pemahamannya. Prinsip Lichacev sangat berguna sekali. Namun, karena hanya merupakan terjemahan jadi tidak ada penjelasan lebih lanjut. Kesepuluh prinsip penyelidikan tersebut adalah

  1. Tekstologi dalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki sejarah teks suatu karya. Salah satu diantara penerapannya yang praktis adlah edisi ilmiah teks yang bersangkutan.
  2. Penelitian teks harus didahulukan dari penyuntingannya.
  3. Edisi teks harus menggambarkan sejarahnya.
  4. Tidak ada kenyataan tekstologis tanpa penjelasannya.
  5. Secara metodis perubahan yang diadakan secara sadar dalam sebuah teks (perubahan ideologi, artistik, psikologis, dan lain-lain) harus didahulukan daripada perubahan mekanis. Misalnya kekeliruan tidak sadar oleh seorang penyalin.
  6. Teks harus diteliti sebagai keseluruhan (prinsip kekompleksan pada penelitian teks)
  7. Bahan-bahan yang mengiringi sebuah teks (dalam naskah antara lain kolofon) harus diikutsertakan dalam penelitian.
  8. Perlu diteliti pemantulan sejarah teks sebuah karya dalam teks-teks dan monumen sastra lain.
  9. Pekerjaan seorang penyalin dan kegiatan skriptoria-skriptoria (sanggar penulisan/penyalinan: biara, madrasah) tertentu harus diteliti secara menyeluruh.
  10. Rekonstruksi suatu teks tidak dapat menggantikan teks yang diturunkan dalam naskah-naskah secara faktual.

Dalam penjelasan dan penurunanya dapat dibedakan tiga macam teks:

  1. Teks lisan yang pada tradisi sastra rakyat disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut.
  2. Teks naskah tulisan tangan dengan huruf daerah.
  3. Teks cetakan yang mulai dikenal setelah seni cetak ditemukan.

Dalam tradisi penyampaiannya variasi bentuk dapat terjadi pada ketiga jenis teks. Maka dibedakan pula ketiga macam teks-tologi yang masing-masing meneliti sejarah teks lisan, tulis tangan, dan cetakan.

Dengan kata lain tekstologi itu studi sejarah teks. Oleh karena istilah filologi mempunyai banyak arti yang jauh berbeda yang satu dengan yang lainnya, maka untuk studi sejarah teks sekarang mulai dipakai istilah tekstologi, a.l.oleh peneliti Rusia Lichacev (1917).

  1. Terjadinya Teks

Menurut De Haan (1973) mengenai terjadinya teks ada beberapa kemungkinan:

  1. Aslinya hanya ada dalam ingatan pengrang atau pembawa cerita. Turun-temurun terjadi secara terpisah yang satu dari yang lain melalui dikte apabila orang ingin memiliki teks itu sendiri. Tiap kali teks diturunkan bisa terjadi beberapa variasi. Perbedaan teks adalah bukti berbagai pelaksanaan penurunan dan perkembangan cerita sepanjang hidup pengarang.
  2. Aslinya adalah teks tertulis , yang lebih kurangmerupakan kerangka yang masih memungkinkan atau memerlukan kebebasan seni. Dalam hal lain, ada kemungkinan bahwa aslinya disalin begitu saja dengan tambahan seperlunya. Kemungkinan lain ialah aslinya disalin, dipinjam, diwarisi, atau dicuri. Terjadilah cabang tradisi kedua atu ketiga di samping yang telah ada karena varian-varian pembawa cerita dimasukkan.
  3. Aslinya merupakan teks yang tidak mengizinkan kebebasan dalam pembawaannya karena pengarang telah menentukan pilihan kata, urut-urutan kata, dan komposisi untuk memenuhi maksud tertentu yang ketat dalam bentuk literer itu. (Baried,57-59)
    1. Teks Tulisan-Lisan

Antara teks tulisan dan lisan tidak ada perbedaan yang tegas. Dalam sastra melayu, hikayat dan syair dibacakan keras-keras kepada pendengar. Hal ini berarti bahwa hikayat dan syair yang sudah dibukukan dari cerita-cerita lisan dan disesuaikan dengan sastra tulis tidak dibaca seorang diri tetapi dibaca bersama-sama. Kebiasaan in berhubungan erat dengan ciri umum sastra Indonesia, yang terutama diturunkan secara lisan dan merupakan milik bersama. Ciri kolektif ini berlaku pula bagi teks dan naskah-naskah yang sudah ratusan tahun tuanya.

Di Bali, dalang memanfaatkan naskah klasik kakawin. Demikian pula berabad-abad mempunyai fungsi sosial karena dibacakan pada kesempatan tertentu. Sampai sekarang pun masih berlangsung tradisi mabasan atau makakawin, yaitu membacakan kakawin dalam bahasa Jawa Kuna dari lontar yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Bali.

Di Lombok teks tembang dibacakan untuk upacara “rites de passage”, misalnya supitan.

Di Jawa, tembang macapat karya pujangga-pujangga besar seperti Ranggawarsita, Mangkunegara IV, Pakubuwana IV, dan bermacam-macam babad lazim dedengarkan bersama-sama pada peristiwa-peristiwa adat yang penting.

  1. 4.      Penyalinan

Tradisi merupakan rangkaiann penurunan yang dilewati oleh suatu teks yang turun-temurun. Banyak orang yang ingin mempunyai suatu naskah sendiri dengan cara memperbanyak naskah itu sendiri. Karena mungkin naskah yang asli sudah rusak dimakan zaman, hilang, terbakar, atau khawatir terjadinya sesuatu yang berakibat fatal pada naskah tersebut. Tujuan magis pun bisa saja terjadi dalam hal ini. Orang yang melakukan ini percaya bahwa dengan memiliki naskah ini akan mendapatkan kekuatan yang belum pernah dimilikinya. Namun ada juga yang disalin dengan tujuan politik, agama, pendidikan dan lain sebagainya.

Akibatnya banyaklah terjadi suatu penyalinan naskah mengenai suatu cerita. Dalam penyalinan yang berkali-kali dan berulang-ulang ini tidak menutup kemungkinan bahwa akan timbul berbagai kesalahan atau perubahan dalam naskah tersebut. Dalam hal ini mungkin si penyalin kurang memahami pokok dan isi naskah tersebut, mungkin pula karena tulisan yang kurang jelas, kotor, kurangnya ketelitian sehingga beberapa huruf hilang (Haplografi), penyalinan maju dari perkataan ke perkataan yang sama (saut du meme au meme), suatu kata suatu bagian kalimat,  beberapa baris, atau satu bait terlampaui, atau sebaliknya ditulis dua kali (ditografi). Pergeseran dalam lafal dapat mengubah ejaan; dan ada kalanya huruf terbalik atau baris puisi tertukar; demikian pula dapat terjadi peniruan bentuk kata karena pengaruh perkataan lain yang baru saja disalin. Dalam proses salin-menyalin yang demikian, korupsi atau rusak bacaan tidak dapat dihindari.

Di samping perubahan yang terjadi karena ketidaksengajaan, setiap penyalin dengan bebas bisa menambah, mengurangi atau mengubah naskah menurut seleranya masing-masing yang akan disesuaikan dengan kondisi zaman penyalinan. Sehubungan dengan hal itu, di zaman modern ini perlu diadakan penelitian secara filologi karena adanya kemungkinan yang menyebabkan terjadinya beberapa bentuk penyajian itu adalah perubahan-perubahan yang diadakan oleh penyusunnya sendiri dengan maksud menyempurnakan teks sesuai dengan sesuai dengan pertimbangan atau pandangan sebaik-baiknya. Di samping itu, unsur-unsur dari luar yang berhubungan dengan teks itu, antara lain sensor pemerintah, pengetik, pencetak dan sebagainya dapat merupakan penyebab timbulnya perbedaan antara beberapa penyajian atau penerbitan karya yang sama. Dengn demikian naskah salinan belum tentu merupakan kopi yang sempurna dari naskah yang disalin. Ada kalanya perbedaan hanya kecil saja tetapi ada perbedaan yang besar sehingga timbul naskah-naskah yang berbeda versi atau berbeda bacaannya.

  1. 5.    Penentuan Umur

Naskah biasanya tidak menyebutkan waktu penulisannya. Oleh karena itu, umur naskah hanya dapat dirunut berdasarkan keterangan dari dalam (interne evidentie) dan keterangan dari luar (externe evidentie) naskah itu sendiri. Ada kalanya penyalin memberi catatan pada akhir teks mengenai bilamana dan dimana teks itu selesai disalin (kolofon). Namun, apabila kolofonnya tidak ada, kertas bahan naskah sering memperlihatkan tanda atau lambang pabrik yang membuat kertas itu. Tanda itu disebut cp air (watermark). Dengan memakai daftar cap, dapat diketahui pada tahun berapa kertas itu dibuat. Kertas tersebut didatangkan dari Eropa, kemudian segera dipakai karena persediaan terbatas. Jadi umur naskah dapat diperkirakan tidak jauh berbeda dari umur kertas.

Disamping itu, perlu diperhatikan ctatan-catatan di sampul luar, sampul kertas depan dan belakang naskah, serta ciri-ciri lain yang dapat memberi keterangan tentang umur naskah. Demikian pula asal-usul naskah menjadi milik berbagai  perpustakaan dapat memberikan penanggalan tentatif. Akhirnya, yang dapat juga memberi petunjuk dalam memperkirakan umur naskah waktu dan peristiwa-peristiwa sejarah yang disebut-sebut dalam teks. Misalnya Portugis dikalahkan oleh Bangsa Belanda (1641), berarti bahwa naskah yang itu ditulis sesudah tahun 1641. Apabila da peristiwa lain yang kemudian disebutkan maka saat penulisan paling awal (terminus a quo) dan paling akhir (terminus ad quem) dapat ditentukan. Sebagai contoh teks hikayat Hang Tuah memuat peristiwa pada tahun 1641. Rupanya teks itu ditulis pada abad ke-17, sesudah tahun 1726 karena pada tahun tersebut hikayat Hang Tuah telah disebutkan dalam Oud en Nieuw-Oost Indien karangan Francois Valentjin (1726). (Baried, 57-61).

 

BAB III

PENUTUP

 

  1.        I.            KESIMPULAN

Objek penelitian filologi merupakan teks atau naskah masa lampau yang mengandung ungkapan perasaan, pemikiran dari penulisnya. Adapun istilah naskah-teks yang ada diluar konteks filologi misalkan naskah atau teks pidato. Kodeks merupakan bahan tulisan tangan. Sedangkan ilmu yang mempelajarinya disebut kodikologi. Kodikologi sendiri mempelajari tentang seluk-beluk atau semua aspek naskah, antara lain bahan, umur, tempat penulisan, dan perkiraan penulis naskah. Teks artinya kandungan atau muatan naskah, sesuatu yang abstrak yang hanya dapat dibayangkan saja. Mempelajari teks pun tidak boleh sembarangan. Harus orang yang benar-benar ahli dan dapat dipercaya. Ilmu yang mempelajari teks adalah tekstologi. Dari cara penurunanya teks dibagi menjadi tiga macam yaitu: turun-temurun dari mulut ke mulut, tulisan daerah, dan seni cetak setelah seni cetak ditemukan. Dengan demikian teks-tologi pun dibedakan menjadi tiga macam yaitu teks lisan, tulisan tangan dan cetakan.

  1.     II.            DAFTAR PUSTAKA
    1. Siti Baroroh Baried, dkk. 1994. “Pengantar Teori Filologi”. Badan Penelitian dan Publikasi Fakutas Seksi Filologi Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
    2. http://irwan-cahyadi.blogspot.com/2011/11/kumpulan-pengertian-naskah.html
    3. http://www.rasiadha.wordpress.com
    4. http://www.wikipedia.org

aanny PHILOLOGY

KRITIK TEKS DALAM FILOLOGI

Dosen pengampu : Afiati Handayu

 

 

 

Disusun oleh :

Dzulfikri Ridwanul Khaq       (09150011)

Siti Khodijah                           (10150010)

Kelas               : A

Kelompok       : 6

 

JURUSAN SASTRA INGGRIS

FAKULTAS ADAB DAN ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA

 YOGYAKARTA

2012

 

 

KATA PENGANTAR

 

  1. F.     Pendahuluan

Makalah ini disusun terutama untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Filologi sub-pembahasan Kritik Teks dalam Filologi. Dalam proses pembuatan makalah ini kami menggunakan referensi Induk dari buku Pengantar Teori Filologi yang diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Publikasi Fakultas (BPPF) Seksi Filologi Fakultas Sastra UGM dan referensi lain yang dapat kami temukan.

         Semoga makalah ini memiliki nilai guna khususnya bagi kami sebagai penyusun dan umumnya bagi teman-teman di kelas A Mata Kuliah Filologi Jurusan Sastra Inggris Fakultas Adab UIN Sunan Kaijaga Yogyakarta. Dan tentunya makalah ini masih sangat jauh dari sempurna. Untuk itu kepada dosen pembimbing kami minta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah kami di masa yang akan datang.

 

                                                                                                                  Pemakalah

 

                                                                                                                           Kelompok 6

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                               DAFTAR ISI

 

                                                               DAFTAR ISI

 

KATAPENGANTAR ………………………………………………………………….   2

DAFTAR ISI  …………………………………………………………………………     3

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………………….     4

BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………….       5

BAB III KESIMPULAN ………………………………………………………………     7

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………     8  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. A.  Latar Belakang

 

Dalam perjalanan sejarah sebuah teks, teks diperbanyak dengan cara disalin (diturun) dalam proses penurunan teks dalam naskah tidak menutup kemungkinan naskah telah terpapar oleh berbagi dampak dari luar yang tidak dapat dihindari. Dampak historis dan kultural telah meninggalkn bekasnya pada teks sehingga ada kemungkinan isi teks telah jauh dari aslinya.

Sehingga sering dijumpai, teks yang sampai sekarang ini bukanlah teks asli yang ditulis oleh pengarang. Dalam transmisi berkali-kali dari zaman ke zaman dapat terjadi perubahan disengaja atau tidak disengaja. Dan oleh usia ataupun iklim, teks asli mengalami kerusakan.

 Oleh sebab itu, diperlukannya sebuah kritik teks untuk mengembalikan teks kepada bentuknya semula dengan menelusuri jejak perubahan-perubahan yang telah terjadi dan menempatkannya sesuia dengan tujuan teks yang menjadi hasil akhir penelitian.

 

B. Rumusan Masalah

    1. Apa yang dimaksud kritik teks ?

    2. Apa tujuan dilakukannya kritik teks ?

    3. Bagaimanakah langkah  kritik teks ?

 

C. Tujuan Penulisan

    1. Mengerti dan mengetahui apa yang dimaksud kritik teks.

    2. Mengetahui dan mengerti tujuab dilakukanya kritik teks.

    3. Mengetahui langkah  kritik teks.

 

 

                                              

                                                BAB II

                                               PEMBAHASAN

 

A. Pengertian Kritik Teks

 

Kata “kritik” berasal dari bahasa Yunani krites yang berarti “seorang hakim”. Krinein berarti “menghakimi”, kriterion berarti “dasar penghakiman”.  Kritik teks adalah memberiakn evaluasi terhadap teks, meneliti, dan menempatkan teks pada tempat yang tepat (Barried, 1994: 61).

Kritik teks bertujuan untuk menghasilkan teks yang sedekat-dekatnya dengan teks aslinya (constitution textus). Sehingga tujuan utama seorang filolog yaitu melalui kritik teks memurnikan kembali teks. Teks yang sudah kembali dimurnikan seperti semula dapat dipandang sebagai tipe mula ( arketip) yang dapat dipertanggung jawabkan sebagai sumber berbagai penelitian dalam biadang ilmu lain.

Langkah awal kritik teks adalah perbandingan. Pada umumnya, teks banyak disalin dengan tujuan tertentu. Frekuensi banyaknya salinan teks bergantung pada sambutan masyarakat terhadap suatu teks. Dalam hal teks profan, yang dianggap milik bersama, frekuensi penyalinanya banyak berarti  teks tersebut disukai, namun apabila penyalinanya sedikt berarti teks tersebut kurang populer.

Lain halnya dengan teks profan, teks sakral yang merupakan milik kraton dan hanya dibaca dalam suatu kalangan terbatas, frekuensi penyalinanya sedikit karena dianggap kesakralannya. Sehingga, penyalinnyapun orang tertentu, bukan sembarang orang dan harus sangat teliti. Seperti dalam Ramayana, teks kakawin Jawa Kuna yang berasal dari abad-9 yang dipandang sangat sakral.

Perbedaan dalam berbagai lapisan teks, sengaja atupun tidak disengaja menimbulkan usaha untuk memurnikan kembali teks. Di Indonesia terlihat penurunan/salinan teks dengan tujuan menyelamatkan sekaligus merusak teks. Dengan adanya hal tersebut, kritik teks dengan berbagai cara berusaha memurniakan kembali teks-teks seperti semula. Teks ini dipandang otentik, dilihat dari berbagai segi dan sudut pandang, asalkan tetap mengindahkan norma-norma sebagai karya sastra.

Maka dari itu studi filologi sangat erat berkaitan dengan studi sastra, perlu dijelaskan hubungannya dengan kritik, adapula yang disebut dengan kritik sastra. Objek dari kritik satra ini adalah karya sastra yang langsung dianalisis, dipertimbangkan baik buruknya, bernilai seni atau tidak. Kritik sastra menunjukkan selera yang baik, sehingga kesusastraa tumbuh segar dan berkmbang dengan baik. Dengan demikian kritik sastra membantu perkembangan kesusastraan.

 

B. Transliterasi

 

Transliterasi adalah penggantian jenis tulisan, huruf demi huruf dari abjad satu kepada abjad yang lain. Istilah ini dipakai bersama-sama dengan istilah transkripsi dengan pengertian yang sama pada jenis penggantian tulisan naskah. Penggantian jenis tulisan pada naskah disebut transliterasi. Penggantian jenis tulisan pada prasasti disebut transkripsi, salinan atau turunan tanpa mengganti macam tulisan.

Transliterasi sangat penting untuk memperkenalkan teks-teks lama karena tertulis dengan huruf daerah karena kebanyakan orang sudah tidak akrab lagi dengan tulisan daerah. Dalam melakukan transliterasi perlu diikuti pedoman yang berhubungan dengan pemisahan dan pengelompokan kata, ejaan dan pungtuasi. Juga harus memperhatikan ciri-ciri teks asli sepanjang hal itu dapat dilaksanakan karena penafsiran teks yang bertanggungjawab sangat membantu pembaca dalam memahami teks.

 

C. Perbandingan Teks

 

Banyaknya teks yang diakibatkan oleh penyalianan, sehingga perlu dilakukannya perbandingan teks diantara teks-teks yang mirip. Perbandingan teks dilakukan guna untuk menentukan teks yang paling dapat dipertanggung jawabkan sebagai dasar suntingan naskah yang baik.

Lagkah pertama dengan membaca dan menilai (resensi) semua naskah yang ada, mana yang dapat dipandang sebagai naskah objek penelitian dan mana yang tidak. Sehingga, naskah yang jelas tidak ada gunanya dalam penentuan dasar teks suntingan, dapat disisihkan (eliminasi). Selanjutnya, teks-teks yang dapat digunakan untuk penelitian, diperiksa keasliaannya (eksaminasi). Dari bacaan teks-teks lain, dicatat semua tempat yang berbeda (varian). Pada varian kata perlu diamati apakah kata itu hanya terdapat pada tempat lain atau merupakan gejala tersendiri, artinya kata itu hanya terdapat pada tempat itu saja (hapax). Varian yang tidak memenuhi kriteria dapat dianggap salah. Penyimpangan kadang terdapat pula pada cara penyajian perbedaan asasi jalan cerita (versi).

Dalam menghadapi naskah dalam jumlah besar, maka langkah berikut setelah semua naskah dibandingkan adalah mengelompokannya dalam beberapa versi. Kemudian ditentukan hubungan antara satu kelompok denngan kelompok lainnya untuk memperoleh gambaran garis keturunan versi-versi dan naskah-naskah. Selanjutnya, ditentukan metode kritik teks yang paling sesuai dengan hasil perbandingan teks.

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Kritik teks yang berasal dari bahasa Yunani berarti memberiakn evaluasi terhadap teks, meneliti, dan menempatkan teks pada tempat yang tepat (Barried, 1994: 61).

Kritik teks bertujuan untuk menghasilkan teks yang sedekat-dekatnya dengan teks aslinya (constitution textus.

Langkah awal kritik teks adalah perbandingan. Dengan melakukan resensi, eleminasi, eksaminasi yang dilanjutkan dengan memperhatikan varian juga versi, kita dapat menentukan metode metode kritik teks yang paling sesuai denganhasil perbandingan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Baried, Siti Baroroh dkk. Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: BPPF Seksi Filologi Fakultas Sastra UGM, 1994.

http://umanrejoss.blogspot.com/2011/03/kritik-teks.html (tanggal akses : 24 Maret’12, 15.00 WIB )

http://sayidahblog.blogspot.com/2010/08/kritik-teks-metode-kritik-teks.html (tanggal akses : 24 Maret’12, 15.00 WIB

 

a dalam dunia ilmu, membuat filologi berkaitan dalam hubungan saling mendukung dengan ilmu-ilmu

 


[1] Siti Baroroh Baried, dkk. 1994. “Pengantar Teori Filologi”. Badan Penelitian dan Publikasi Fakutas Seksi Filologi Fakultas Sastra Uneversitas Gajah Mada, Yogyakarta. Hal. 12-31

 

[2] Baried, Siti Baroroh, dkk. 1994. Pengantar Teori Filologi. UGM Press. Yogyakarta. Hal 32-37

[3] Ibid, hal 37-40

[4] Baroroh Baried, Siti. 1994.  Pengantar Teori Filologi. Hlm 32

[5] Siti Baroroh Baried, dkk. 1994. “Pengantar Teori Filologi”. Badan Penelitian dan Publikasi Fakutas Seksi Filologi Fakultas Sastra Uneversitas Gajah Mada, Yogyakarta. Hal. 55

Tentang afihdf

Dosen Fakultas ADAB UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s