TEKNIK PENULISAN

TEKNIK PENULISAN

Karangan ilmiah menurut Brotowijoyo dalam Arifin (1985: 8-9) adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar.

Jenis-jenis karya ilmiah

AAA
a. Makalah

Makalah adalah karya tulis ilmiah yang menyajikan permasalahan dan pembahasannya berdasarkan data di lapangan atau kepustakaan yang bersifat empiris dan objektif.

b. Kertas kerja

Kertas kerja adalah karya tulis ilmiah yang bersifat lebih mendalam daripada makalah dengan menyajikan data di lapangan atau kepustakaan yang bersifat empiris dan objektif. Makalah sering ditulis untuk disajikan dalam kegiatan penelitian dan tidak untuk didiskusikan, sedangkan kertas kerja ditulis untuk disajikan dalam seminar atau lokakarya

c. Laporan Praktik Kerja

Laporan praktik kerja adalah karya tulis ilmiah yang memaparkan data hasil temuan di lapangan atau instansi perusahaan tempat kita bekerja. Jenis karya ilmiah ini merupakan karya ilmiah untuk jenjang diploma III (DIII)

d. Skripsi

Skripsi adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasarkan pendapat orang lain (karya ilmiah S I). Karya ilmiah ini ditulis untuk meraih gelar sarjana langsung (observasi lapangan) skripsi tidak langsung (studi kepustakaan)

e. Tesis

Tesis adalah karya tulis ilmiah yang mengungkapkan pengetahuan baru dengan melakukan pengujian terhadap suatu hipotesis. Tesis ini sifatnya lebih mendalam dari skripsi (karya ilmiah S II). Karya ilmiah ini ditulis untuk meraih gelar magister.

f. Disertasi

Disertasi adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan teori atau dalil baru yang dapat dibuktikan berdasarkan fakta secara empiris dan objektif (karya ilmiah S III). Karya ilmiah ini ditulis untuk meraih gelar doktor.

Perbedaan antara makalah, kertas kerja dengan skripsi, tesis, dan disertasi dapat dilihat dari hal-hal berikut:

(1) kegunaannya,

(2) tebal halaman,

(3) waktu pengerjaan, dan

(4) gelar akademik.

Manfaat penyusunan karya ilmiah bagi penulis

1. Melatih untuk mengembangkan keterampilan membaca yang efektif;

2. Melatih untuk menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber;

3. Mengenalkan dengan kegiatan kepustakaan;

4. Meningkatkan pengorganisasian fakta/data secara jelas dan sistematis;

5. Memperoleh kepuasan intelektual;

6. Memperluas cakrawala ilmu pengetahuan.

Tujuh sikap ilmiah bagi penulis

a. sikap ingin tahu bertanya mengapa, apa, dan bagaimana;

b. sikap kritis mencari informasi sebanyak mungkin;

c. sikap terbuka menerima pendapat orang lain;

d. sikap objektif menyatakan apa adanya;

e. sikap menghargai orang lain mengutip karangan orang lain dengan mencantumkan nama pengarang;

f. sikap berani mempertahankan hasil penelitian;

g. sikap futuristik mengembangkan ilmu pengetahuan lebih jauh.

Karakter Penulisan Ilmiah

1. Mengacu kepada teori

Artinya karangan ilmiah wajib memiliki teori yang dijadikan sebagai landasan berpikir / kerangka pemikiran / acuan dalam pembahasan masalah.

Fungsi teori :

a. Tolak ukur pembahasan dan penjawaban persoalan

b. Dijadikan data sekunder / data penunjang ( data utama ; fakta )

c. Digunakan untuk menjelaskan, menerangkan, mengekspos dan mendeskripsikan suatu gejala

d. Digunakan untuk mendukung dan memperkuat pendapat penulis.

2. Berdasarkan fakta

Artinya setiap informasi dalam kerangka ilmiah selalu apa adanya, sebenarnya dan konkret.

3. Logis

Artinya setiap keterangna dalam kerangka ilmiah selalu dapat ditelusuri, diselidiki dan diusut alasan-alasannya, rasional dan dapat diterima akal.

4. Objektif

Artinya dalam kerangka ilmiah semua keterangan yang diungkapkan tidak pernah subjektif, senantiasa faktual dan apa adanya, serta tidak diintervensi oleh kepentingan baik pribadi maupun golongan.

5. Sistematis

Baik penulisan / penyajian maupun pembahasan dalam karangan ilmiah disajikan secara rutin, teratur, kronologis, sesuai dengan prosedur dan sistem yang berlaku, terurut, dan tertib.

6. Sahih / Valid

Artinya baik bentuk maupun isi karangan ilmiah sudah sah dan benar menurut aturan ilmiah yang berlaku.

7. Jelas

Artinya setiap informasi dalam karangan ilmiah diungkapkan sejernih-jernihnya, gamblang, dan sejelas-jelasnya sehingga tidak menimbulkan pertanyaan dan keraguan-raguan dalam benak pembaca.

8. Seksama

Baik penyajian maupun pembahasan dalam karangan ilmiah dilakukan secara cermat, teliti, dan penuh kehati-hatian agar tidak mengandung kesalahan betapa pun kecilnya.

9. Tuntas

Pembahasan dalam karangan ilmiah harus sampai ke akar-akarnya. Jadi, supaya karangan tuntas, pokok masalah harus dibatasi tidak boleh terlalu luas.

10. Bahasanya Baku

Bahasa dalam kerangka ilmiah harus baku artinya harus sesuai dengan bahasa yamg dijadikan tolak ukur / standar bagi betul tidaknya penggunaan bahasa.

11. Penulisan sesuai dengan aturan standar (nasional / internasional)

Akan tetapi, tata cara penulisan laporan penelitian yang berlaku di lembaga tempat penulis bernaung tetap harus diperhatikan.

Persyaratan Menulis Karya Ilmiah

1. Menguasi teori ;

2. Memiliki pengalaman

3. Bersifat terbuka

4. Bersifat objektif

5. Memiliki kemampuan berbahasa

Langkah-Langkah Penulisan Ilmiah

1. Persiapan

a. Pemilihan Topik

Cara memilih topik yang baik dalam karya ilmiah adalah sebagai berikut:

a) topik itu sudah dikuasai;

b) topik itu paling menarik perhatian;

c) topik itu ruang lingkupnya terbatas;

d) data itu objektif;

e) memiliki prinsip-prinsip ilmiah (ada landasan teori atau teori-teori sebelumnya;

f) memiliki sumber acuan.

b. Penentuan Judul

Cara menulis judul adalah dengan menentukan kerangka karangan dengan pembatasan topik.

Contoh:

topik : perkantoran

masalah apa : kepegawaian

mengapa : pengawasan

di mana : Pemda Jawa Barat

waktu : tiga bulan

kajian : praktik/penerapan

Contoh: Lihat bagan!

Fungsi Pengawasan dalam Upaya Peningkatan Kinerja Pegawai di Lingkungan Pemerintahan Daerah Tingkat I Jawa Barat

Catatan : Syarat judul yang baik adalah sebagai berikut:

1. harus bebentuk frasa,

2. tanpa ada singkatan atau akronim,

3. awal kata harus huruf kapital kecuali preposisi dan konjungsi,

4. tanpa tanda baca di akhir judul karangan,

5. menarik perhatian,

6. logis, dan

7. sesuai dengan isi.

Jika ada kata kerja atau predikat dalam judul karangan, kata kerja tersebut harus diubah menjadi kata benda.

mengawasi pengawasan

berfungsi fungsi atau jadi peranan

bermanfaat pemanfaatan

Pupuk Cair Organik Berfungsi untuk Meningkatkan Produksi Padi (Oriza Sativa) di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung

Seharusnya:

Fungsi Pupuk Cair Organik dalam Upaya Peningkatan Produksi Padi (Oriza Sativa) di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung

atau

Peranan Pupuk Cair Organik dalam Upaya Peningkatan Produksi Padi (Oriza Sativa) di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung Predikat (kata kerja) dalam judul tersebut tidak ada lagi.

c. Penulisan Kerangka Karangan

Kerangka karangan adalah pengelompokan dan pengamatan jenis fakta dan sifatnya menjadi kesatuan yang bertautan.

Contoh:

LEMBAR PENGESAHAN

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG

DAFTAR TABEL

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

1.2 Pembatasan Masalah

1.3 Tujuan Penelitian

1.4 Kerangka Teori

1.5 Sumber Data

1.6 Sistematika Penulisan

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 …

2.2 …

BAB III METODE PENELITIAN DAN KAJIAN

3.1 …

3.2 …

BAB IV ANALISIS DATA

4.1 …

4.2 …

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 …

5.2 …

RAGANGAN SKRIPSI SEMENTARA

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR KAMUS

LAMPIRAN DATA

2. Pengumpulan Data

Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut:

a. mencari informasi/data dari kepustakaan;

b. menyusun daftar angket;

c. melakukan wawancara;

d. melakukan pengamatan di lapangan;

e. melakukan percobaan di laboratorium.

3. Penyusunan Data

Penyusunan data dapat diartikan menyeleksi, mengolah, dan menganalisis data dengan menggunakan teknik-teknik atau metode yang telah ditentukan.

4. Pengetikan

Setelah data disusun lalu diadakan pengetikan data (penelitian).

5. Pemeriksaan

Pemeriksaan data (penelitian) dapat dilakukan melalui tahapan penerapan bahasa berikut:

1. penyusunan paragraf,

2. penerapan kalimat baku,

3. penerapan diksi/pilihan kata, dan

4. penerapan EYD.

Penyajian

Yang dimaksud dengan penyajian dalam penulisan karya ilmiah adalah cara-cara menerapkan aturan penulisan, pengutipan, penulisan daftar pustaka, dan konvensi. Dengan kata lain, penyajian meliputi seperangkat bentuk penyajian karya ilmiah secara utuh (mulai dari jilid

sampai dengan lampiran).

Sistematika Penulisan

Sistematika karya ilmiah adalah aturan meletakkan bagianbagian karangan ilmiah (bagian mana yang harus didahulukan dan bagian mana yang harus dikemudiankan)

Ruang Lingkup

Ruang lingkup sistematika karya ilmiah terbagi atas tiga hal yaitu sebagai berikut.

Bagian Pembuka

Bagian pembuka meliputi kulit luar (jilid), halaman judul, halaman pengesahan, halaman persembahan, abstrak (dlm bhs. Indonesia dan bhs. Inggris), prakata, daftar isi, daftar tabel dan grafik, daftar singkatan dan lambang, dan daftar lampiran.

Bagian Isi

Bagian isi adalah bagian inti dalam karya ilmiah yang meliputi bab pendahuluan, bab landasan teoretis, bab objek penelitian, bab pembahasan (analisis data), dan bab penutup. Dengan kata lain, bagian isi merupakan penelitian si penulis.

Bagian Penutup

Bagian penutup adalah bagian akhir dari karya ilmiah yang meliputi daftar pustaka, daftar riwayat hidup, indeks, dan lampiran.

Bagian Pembuka

1. Judul Karangan (Kulit Luar)

Dalam kulit luar, harus dicantumkan judul karangan (dengan subjudul, bila ada), nama karangan ilmiah, keperluan penyusunan, nama penyusun dan NPM, logo, nama lembaga pendidikan (jurusan, fakultas, universitas), nama kota, dan tahun penyusunan.

a. Judul karangan

Catatan: Syarat-syarat judul dapat dilihat pada pemilihan topik dan penentuan judul.

Contoh:

PENINGKATAN INDUSTRI BAJA DI KRAKATAU STEEL CILEGON: TINJAUAN KUALITAS DAN KUANTITAS

Atau

FUNGSI PENGAWASAN DALAM U PAYA PENINGKATAN KINERJA PEGAWAI DI LINGKUNGAN PEMERINTAHAN DAERAH TINGKAT I JAWA BARAT

b. Nama Karangan Ilmiah

Mencantumkan jenis karangan ilmiah. Apakah LAPORAN PRAKTIK KERJA, SKRIPSI, TESIS, DISERTASI dll. Ditulis dengan huruf kapital dan cetak tebal.

c. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan ditulis dengan memakai huruf kecil kecuali nama mata kuliah, kegiatan, dan nama jurusan. (ditulis di tengahtengah).

Contoh:

disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Politik pada Program Studi Ilmu Administrasi Negara

diajukan untuk dipertahankan dalam sidang Sarjana Ilmu Sosial pada Program Studi Ilmu Administrasi Negara

d. Dilengkapi Dengan Nama Dosen Pembina

Dosen Pembina:

Bambang Soelistiyono, S.H., M.M.

e. Nama Penyusun

Dicantumkan nama penyusun dan NPM dengan didahului kata

Oleh: atau Disusun oleh:

Oleh:

Tubagus Ahmad Soebagja

0299007

Disusun oleh:

Raden Rindu Asmarawati

K1B99034

a) Penulisan nama ditulis lengkap dan tidak dibenarkan disingkat

Tb. Ahmad S.

b) Penulisan nama tidak dibenarkan memakai huruf capital semua RADEN RINDU ASMARAWATI.

c) Kata oleh diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik dua, Oleh:

f. Logo

Logo lembaga pendidikan dengan diameter 4 cm disimpan di tengah.

g. Dicantumkan nama fakultas, universitas atau sekolah tinggi, nama kota, dan tahun penyusunan (ukuran huruf 14).

JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS PADJADJARAN

BANDUNG

2006

a) Semua ditulis dengan huruf kapital dan dicetak tebal dengan ukuran huruf 14

b) Penulisan fakultas, lembaga pendidikan tidak boleh dipenggal

2. Halaman Judul

Halaman judul sama (identik) dengan kulit luar (jilid), tetapi dituangkan dalam kertas A-4 atau kertas jeruk.

3. Halaman Pengesahan

Halaman pengesahan adalah halaman khusus dalam karya ilmiah yang berisikan judul karangan, nama penyusun, NPM, pembimbing utama, pembimbing anggota, diketahui ketua jurusan, dan disahkan oleh

dekan.

—————–JUDUL—————-:

———–ANAK JUDUL———-

–SKRIPSI—

—————tujuan penulisan———-

———————————-

Oleh:

Nama

NPM

—–FAKULTAS—–

——-UNIVERSITAS——-

—–KOTA—–

–TAHUN—

—————–JUDUL—————-:

———–ANAK JUDUL———-

—TUGAS—

—————tujuan penulisan———-

———————————-

Dosen Pembina:

Nama dosen

Oleh:

Nama

NPM

—–FAKULTAS—–

——-UNIVERSITAS——-

—–KOTA—–

–TAHUN—

4. Halaman Persembahan

Lembaran ini bersifat subjektif. Artinya, isinya bebas bergantung pada keinginan penulis. Biasanya berisikan ayat-ayat suci agama. Persembahan disajikan untuk orang-orang terdekat (ibu, bapak, kakak, adik, istri, suami, atau anak).

5. Abstrak

Abstrak mencerminkan seluruh si karangan dengan mengungkapkan

a. judul karangan,

b. metode penelitian,

c. tujuan penelitian,

d. permasalahan, dan

e. hasil penelitian.

Abstrak ini disajikan dengan jarak 1 spasi dan ditulis dalam dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Jumlah kata dalam abstrak yaitu sekitar 200—500 kata.

6. Kata Pengantar

Kata pengantar dalam karya ilmiah, misalnya, skripsi berisikan hal-hal berikut:

a. Puji syukur kepada Tuhan,

b. Judul karangan,

c. Ucapan terima kasih,

d. Harapan-harapan penulis,

e. Tanggung jawab ilmiah penulis, dan

f. Penulisan tempat, tanggal, dan nama penulis.

7. Daftar Tabel

Karangan ilmiah yang lengkap, selain menganalisis data dengan saksama, juga mencantumkan tabel yang merupakan gambaran analisis data. Nama tabel diberikan nomor dengan angka Arab dan ditulis dengan memakai huruf kapital pada awal kata kecuali preposisi (di, ke, dari, dll) dan konjungsi (dalam, pada, untuk, dll).

Contoh:

Tabel 1 Jumlah Penduduk Kecamatan Majalaya……..…………………. 5

Tabel 2 Tingkat Pendapatan Masyarakat………………………………… 16

Tabel 3 Jumlah Produksi Kain di PT Kaha Grup……………………….. 34

8. Daftar Gambar / Grafik / Bagan

Daftar grafik / gambar / bagan pada dasarnya sama dengan penulisan daftar tabel.

9. Daftar Singkatan dan Lambang

Tidak ada aturan yang menetapkan bahwa penulisan lambang dan singkatan harus memakai huruf kapital atau tidak. Ketentuan mengenai bentuk singkatan atau lambang bergantung pada keinginan penulis.

Namun, hal yang perlu dipahami dalam penulisan daftar singkatan itu harus konsisten.

Cara penulisan singkatan dan lambang adalah sebagai berikut: ditulis dalam bentuk lengkap terlebih dahulu, kemudian diikuti bentuk singkatannya contoh: Bahasa Indonesia (selanjutnya disingkat BI); disusun secara alfabetis.

10. Daftar Lampiran

Daftar lampiran memberikan informasi tentang kelengkapan penelitian seperti angket, kuesioner atau pedoman wawancara, foto-foto, peta lokasi, surat izin penelitian, dan daftar riwayat hidup.

Bagian Isi atau Inti Karya Ilmiah

Bagian isi ini dibagi menjadi empat atau lima bagian, yaitu sebagai berikut:

1. Pendahuluan,

2. kajian teori,

3. Objek penelitian,

4. Analisis data (pembahasan), dan

5. Penutup.

1. Pendahuluan

Bab pendahuluan memuat penjelasan atau pengantar tentang isi karangan ilmiah. Bab ini juga memuat landasan kerja dan arahan dalam penyusunan karangan ilmiah.

a. Latar Belakang Masalah

Bagian ini merupakan landasan dan pendorong (motivator) bagi :

1) Peneliti untuk melakukan penelitian dan penulisan skripsi;

2) Pembaca (orang lain) untuk membaca lebih lanjut. Oleh karena itu, latar belakang ini harus berisikan hal-hal yang menarik minat pembaca. Pada bagian ini, diuraikan tentang (a) masalah yang akan diteliti, (b) penjelasan tentang dipilihnya masalah ini bagi penulis atau pun bagi orang lain (c) argumentasi yang logis antara data (realitas) dan teori (harapan) sehingga kesenjangan ini menimbulkan rumusan permasalahan.

b. Identifikasi Masalah atau Pembatasan Masalah

Identifikasi masalah bertujuan untuk membatasi atau menajamkan pokok permasalahan sehingga kajian atau pembahasannya tidak terlalu luas dan abstrak. Identifikasi masalah bisa memudahkan peneliti untuk melakukan penelitian karena pokok permasalahannya menjadi lebih sempit (fokus). Identifikasi masalah harus disajikan dalam bentuk pertanyaan. Jawaban pertanyaan tersebut akan disajikan dalam simpulan, sedangkan prosesnya disajikan dalam bentuk pembahasan pada bab IV.

c. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan sasaran yang akan dicapai atau dihasilkan dalam penelitian ini, sedangkan kegunaan penelitian merupakan penegasan tentang manfaat yang akan dicapai baik secara teoretis maupun secara praktis.

d. Kerangka Pemikiran dan Hipotesis

Kerangka teori berisikan prinsip-prinsip teori yang memengaruhi dalam pembahasan. Prinsip-prinsip ini berguna untuk memberikan arahan dan langkah untuk membahas masalah yang akan diteliti.

Kerangka teori ini harus menggambarkan tata kerja teori tersebut.

Contoh: Dalam teori ini, akan digunakan teori-teori yang relevan dengan masalah yang akan dikaji. Untuk mengkaji bentuk dan makna afiks verba, digunakan teori Badudu (1992), Tadjuddin (1993), Alwi dkk. (1993), Purwo (1998), dan Sudaryanto (1994). Untuk mengkaji verba, akan digunakan teori Chafe (1993), Sugono dan Indiyastini (1994).

e. Metode dan Teknik penelitian

Penelitian ilmiah harus mempergunakan metode dan teknik penelitian. Metode penelitian adalah seperangkat alat yang tersusun secara sistematis dan logis sedangkan teknik penelitian adalah tata cara melakukan setiap langkah-langkah metode penelitian.

Metode dibedakan atas dua jenis yaitu sebagai berikut.

1. Metode kepustakaan

Metode deskriptif adalah untuk menganalisis dan memaparkan data dengan apa adanya

Metode komparatif adalah untuk membandingkan dua atau lebih sumber data yang akan diteliti

2. Metode analisis (lapangan)

metode eksperimen di laboratorium

metode sensus angket

metode survai wawancara

metode studi kasus sampel atau perbandingan data

Teknik analisis meliputi: (1) analisis kuantitatif, (2) analisis kualitatif

f. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ialah objek penelitian atau tempat penelitian dilaksanakan. Lamanya penelitian dapat dilakukan dengan membuat rencana atau jadwal kegiatan penelitian.

g. Sumber Data

Suatu penelitian ilmiah harus menyajikan sekaligus memaparkan sumber data. Sumber data ini merupakan bahan yang diteliti. Jika penelitian ini berasal dari buku. Misalnya, novel, majalah, surat kabar, tabloid, identitas sumber data tersebut harus dicantumkan. Jika sumber data itu banyak dan beragam, dapat digunakan sample dan populasi. Dalam sampel dapat diambil satu contoh data untuk dijadikan bahan percobaan atau perhitungan, sedangkan populasi adalah kumpulan seluruh data yang akan diteliti.

2. Kajian Teori

Bab ini berisikan uraian tentang teori-teori yang relevan dengan masalah yang dibahas atau diteliti. Bisa saja, penelitian-penelitian terdahulu dapat melatarbelakangi penulis untuk melakukan penelitian selanjutnya. Dalam bab ini, disertakan alasan-alasan yang logis. Dengan demikian, penulis dapat menolak, menerima, mempertanyakan, atau menguatkan teori yang sudah ada. Teori yang dijadikan acuan hendaknya kepustakaan atau hasil penelitian yang mutahir dengan berusia 5 tahun kebelakang, tetapi apabila teori lama masih relevan, pendapat tersebut masih bisa dipakai.

3. Objek Penelitian

Dalam bab ini, dijelaskan keadaan lokasi penelitian atau objek penelitian secara singkat (bergantung pada kebutuhan penelitian). Hal hal yang perlu dijelaskan dalam bab ini yaitu (a) sejarah objek penelitian, (b) struktruk organisasi, dan (c) kegiatan objek penelitian.

4. Pembahasan (Analisis Data)

Bab pembahasan data merupakan bab yang paling penting dalam penulisan karya ilmiah karena dalam bab ini dilakukan kegiatan analisis data, sintetis pembahasan, interpretasi penulis, pemecahan masalah, dan penemuan pendapat baru yang diformulakan (bila ada).

Bab ini juga merupakan analisis atas pembatasan masalah dan tujuan penelitian yang telah disebutkan pada bab pendahuluan. Oleh karena itu, pembahasan ini harus konsisten dan relevan dengan bagian sebelumnya.

5. Penutup

Bab penutup meliputi dua bagian yaitu simpulan dan saran.

a. Simpulan

Bab ini berisikan simpulan yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan. Simpulan ini adalah uraian seluruh analisis, interpretasi, dan temuan mutahir yang telah dilakukan pada bab analisis. Simpulan dapat pula dikatakan rangkuman atau analisis data. Simpulan ini pun merupakan jawaban atas pembatasan masalah dan tujuan penelitian.

b. Saran

Saran merupakan rekomendasi atas hasil penelitian untuk menindaklanjuti penelitian selanjutnya. Saran dapat ditujukan kepada penulis lain atau pembaca untuk mngambil kebijakan selanjutnya.

Catatan: Saran ini bukan merupakan saran peneliti atau penulis kepada objek penelitian atau instansi tertentu. Saran ini ditujukan untuk kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Jangan mengkritik objek penelitian karena hal ini bisa bersifat subjektif.

Misalnya penulis mengkritik tindakan korupsi di lingkungan kantor pajak.

Bagian Akhir

Bagian akhir atau kelengkapan akhir meliputi daftar pustaka, daftar kamus, daftar riwayat hidup, dan lampiran.

1. Daftar Pustaka

Salah satu yang harus ada (mutlak) dalam penulisan karangan ilmiah adalah adanya sumber acuan dan daftar pustaka. Dengan adanya daftar pustaka, pembaca bisa mengetahui sumber acuan yang menjadi landasan dalam pengkajian.

Catatan: Teknik dan cara penulisan daftar pustaka akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.

2. Daftar Kamus

Daftar kamus harus dibedakan dengan daftar pustaka.

3. Daftar Riwayat Hidup

Daftar riwayat hidup berisikan biodata penulis yang lengkap mulai nama sampai dengan pendidikan dan pengalaman kerja.

4. Lampiran

Lampiran berisikan hal-hal yang mendukung penulisan karangan ilmiah. Isi lampiran bergantung pada kebutuhan penulisan, misalnya,

a. Acuan wawancara,

b. Angket

c. Surat izin penelitian,

d. Indeks, dan

e. Data penelitian.

Pengutipan dalam Karya Ilmiah

1. Definisi

Pengutipan adalah proses meminjam pendapat para ahli dalam disiplin tertentu baik langsung atau pun tidak langsung yang dituangkan dalam karya ilmiah.

Hasil pengutipan karya ilmiah disebut kutipan.

Fungsi kutipan adalah (a) sebagai bukti untuk menunjang pendapat penulis dan (b) sebagai bukti tanggung jawab penulis.

2. Jenis-Jenis Kutipan

Pada dasarnya, kutipan dalam karya ilmiah itu dibagi atas dua jenis yaitu kutipan langsung dan kutipan tidak langsung.

a. Kutipan Langsung

Kutipan langsung dapat diartikan meminjam pendapat para ahli secara utuh atau lengkap baik itu berupa frase, atau kalimat. Kutipan langsung dapat dibedakan pula atas:

1. Kutipan langsung yang kurang atau sama dengan empat baris;

2. Kutipan langsung yang lebih dari empat baris.

b. Kutipan Tidak Langsung

Kutipan tidak langsung dapat diartikan meminjam pendapat para ahli tidak secara utuh. Penulis mengambil intinya atau topiknya saja, lalu dikembangkan dengan pendapat penulis (tak terdapat perbedaan).

3. Teknik Pengutipan

c. Kutipan langsung yang kurang atau sama dengan empat baris

Pengutipan ini dapat dilakukan dengan cara-cara berikut:

a. Kutipan ditulis langsung dengan teks;

b. Spasi kutipan adalah dua spasi;

c. Memakai tanda petik dua di awal dan di akhir kutipan;

d. Awal kutipan memakai huruf kapital;

e. Diikuti nama akhir pengarang (marga), tahun terbit buku, halaman buku; penulisan ini dapat disajikan di awal atau di akhir kutipan.

Contoh:

——————————–teks———————————–

“………………………………………………….………..……… 2 spasi

……………………………………………kutipan……………… 2 spasi

…………………………” (Badudu, 1994: 56).

———————————-…—————–teks—————— 2 spasi

————————

d. Kutipan langsung yang lebih dari empat baris

Pengutipan ini dapat dilakukan dengan cara-cara berikut:

a. Dipisahkan dari teks 2,5 spasi;

b. Spasi dalam kuipan adalah satu spasi;

c. Memakai tanda petik dua atau pun tidak (opsional);

d. Semua kutipan dimulai dari 7—10 ketukan dari sebelah kiri teks;

e. Awal kutipan memakai hurup capital;

f. Diikuti nama akhir pengarang (marga), tahun terbit buku, halaman buku; penulisan ini dapat disajikan di awal atau di akhir kutipan.

Contoh:

——————————————————————————–

—————————————-teks———————————————- 2 spasi

—————————————————————————————-

2,5 spasi

“………………………………………………………………… 2 spasi

……………………………….kutipan………………………………

……………………….………………

10 ketukan ………………………………………………………………… 5 ketukan

……………..”(Badudu, 1994: 56).

——————————————————————— 2spasi

————————teks—————————————-. 2 spasi

e. Kutipan tidak langsung

Pengutipan ini dapat dilakukan dengan cara-cara berikut:

a. Kutipan disatukan dengan teks;

b. Spasi kutipan adalah dua spasi;

c. Tidak memakai tanda petik dua;

d. Menggunakan ungkapan mengatakan bahwa, menyatakan bahwa, mengemukakan bahwa, berpendapat bahwa dll;

e. Mencantumkan nama akhir pengarang (marga), tahun, dan halaman.

Contoh:

———————————-teks————————– 2 spasi

———————————————————————-

Badudu (1994: 56) mengatakan bahwa ……………………

……………………………………………………………… 2 spasi

……………………………………… kutipan……… ………………

…………………—————————————————- 2 spasi

———————————————– teks ———————————-

—————————————-.

4. Prinsip-Prinsip Dasar

Prinsip-prinsip dasar dalam pengutipan adalah sebagai berikut.

a. Dalam kutipan tidak dibenarkan mencantumkan judul buku.

Menurut Badudu (1994: 56) dalam bukunya Pelik-Pelik Bhs Indonesia diketahui bahwa kalimat adalah ………. (salah)

Menurut Badudu (1994:56) kalimat adalah ………… (benar)

b. Nama orang dan identitas tahun terbit dan halaman buku selalu berdekatan

Baduduber pendapat bahwa………….…………..……………………… ………………………. (1994: 56) (salah)

Badudu (1994: 56)………………………..(benar)

c. Kutipan tidak dibenarkan dicetak tebal atau dihitamkan.

d. Penulis tidak diperkenankan untuk mengadakan perubahan (katakata) dalam kutipan. Apabila ingin mengadakan perubahan, harus disertai dengan penjelasan.

e. Apabila ada kesalahan dalam penulisan baik EYD atau pun ketatabahasaan, tidak diperkenankan mengadakan perubahan. Penulis boleh memberikan pendapat atau komentarnya mengenai kesalahan atau ketidaksetujuannya.

f. Kutipan dalam bahasa asing atau bahasa daerah harus dicetak miring.

g. Kutipan langsung selalu memakai tanda petik dua dan diawali dengan huruf capital Badudu (1994: 56) berpendapat, “kalimat adalah….”

h. Kutipan dapat ditempatkan sesuai dengan kebutuhan baik di awal, tengah, atau akhir teks.

i. Jika nama pengarang ada dua, nama akhir (marga) kedua pengarang itu ditulis.

Badudu (1995: 34) berpendapat ……

j. Jika nama pengarang ada tiga atau lebih, nama akhir pengarang pertama yang ditulis dan diikuti dkk. Badudu, dkk. (1996: 35) …..

k. Kutipan dalam bentuk catatan kaki sudah tidak dipakai lagi dalam penulisan karya ilmiah karena dirasakan tidak efektif.

l. Kutipan yang berasal dari ragam bahasa lisan seperti pidato pejabat jarang dipakai sebagai sumber acuan dalam penulisan karya ilmiah karena kebenarannya sulit dipercaya karena harus diketahui oleh orang yang bersangkutan (rawan kesalahan kutipan).

m. Dalam pengutipan pendapat orang lain, hendaklah dilakukan variasi dalam teknik mengutip (jangan monoton) seperti kutipan langsung dan kutipan tidak langsng.

n. Apabila kutipan itu dirasakan terlalu panjang, penulis boleh mengambil bagian intinya saja dengan teknik memakai tanda titiktitik

[… ---------------------------------(Badudu, 1994:45)….], tetapi tidak boleh mengubah atau menggeserkan makna atau pesannya.

o. Jika mengutip pendapat ahli yang berasal dari kutipan karya ilmiah orang lain, bentuk penyajiannya adalah Menurut Badudu dalam Djajasudarma (1993: 56) bahwa …..

Daftar Pustaka (Bibliografi)

Daftar putaka adalah daftar atau senarai yang ada dalam karya ilmiah (misalnya makalah atau skripsi) yang berisikan identitas buku dan pengarang yang disusun secara alfabetis (setelah nama marga pengarang dikedepankan).

Ciri-Ciri Daftar Pustaka

Kepustakaan atau juga daftar pustaka memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Diambil dari suatu buku, majalah, makalah, surat kabar, internet, orasi dalam karya ilmiah, dsb.

2. Berisikan nama pengarang atau lembaga

3. Memiliki identitas buku, yaitu judul, tahun terbit, cetakan atau edisi, nama penerbit, dan tempat terbit.

Fungsi Daftar Pustaka

Fungsi dari daftar pustaka adalah sebagai berikut:

1. Menunjukkan bahwa tulisan itu ilmiah (bersifat ilmu pengetahuan);

2. Menginformasikan bahwa karya ilmiah itu (penelitian) memiliki referensi dan akumulasi dari karya ilmiah terdahulu;

3. Merupakan alat control pada landasan teoretis atau tinjauan pustaka.

Teknik Penulisan

Teknik penulisan daftar pustaka adalah berikut:

a. Nama pengarang dibalikkan atau diputar dengan catatan nama yang dikedepankan yaitu nama marga/unsur nama akhir yang dipisahkan oleh koma;

b. Setelah itu, nama marga atau unsure nama akhir pengarang disusun secara alfabetis;

c. Bila nama pengarang ada dua, yang dibalikkan adalah nama pengarang pertama;

Contoh : Emil Salim dan Philip Kotler Salim, Emil dan Philip Kotler

d. Jika nama pengarang ada tiga atau lebih, nama pengarang pertamalah yang diputar dan diikuti oleh dkk. atau et. all.

Contoh: Emil Salim, Philip Kotler, Djoemad Tjiptowardojo Salim, Emil. dkk.

e. Bila tidak terdapat nama pengar ang, nama departeman atau lembagalah yang ditulis; bila tidak ada kedua-duanya, tulislah tanpa pengarang, atau tanpa lembaga;

f. Gelar akademik tidak dicantumkan;

g. Judul buku harus dicetak miring dalam komputer atau digarisbawahi dalam mesin tik atau tulisan tangan;

h. Judul artikel, skripsi, tesis, atau disertasi yang belum dibukukan diapit oleh tanda petik dua;

i. Bila ada edisi/cetakan ditulis sesudah judul buku;

j. Jika buku tersebut merupakan terjemahan dari buku bahasa asing, penerjemah ditulis sesudah edisi atau judul buku;

k. Spasi dalam daftar pustaka adalah satu spasi;

l. perpindahan dari satu pengarang ke pengarang yang lain adalah dua spasi.

m. Bila dalam satu buku diperlukan dua baris atau lebih, baris yang kedua atau selanjutnya dimulai dari 1 tabulasi (5-7 ketukan);

n. Jika seorang pengarang menuliskan lebih dari satu buku, nama pengarang ditulis satu kali; nama pengarang itu diganti dengan garis panjang atau tanpa garis panjang;

o. Bila ada dua atau lebih karya ilmiah (buku) yang ditulis oleh seorang pengarang, urutan penulisannya berdasarkan tahun terbit;

p. Bila ada dua atau lebih buku (karya ilmiah) dari seorang pengarang yang ditulis dalam tahun yang sama, urutan penulisannya diikuti nomor urut a, b, c, dsb.

q. Perhatikan urutan penulisan;

Nama keluarga/marga, (dipisahkan koma), nama diri (diakhiri titik), tahun terbit, (diakhiri titik), judul buku, (diakhiri titik atau titik dua bila ada anak judul dan dicetak miring), cetakan (diakhiri titik), nama tempat (diakhiri titik dua), nama penerbit (diakhiri titik).

r. Contoh Bentuk penulisan daftar pustaka

Bentuk pertama

—(marga)–,—(nama kecil)—. –(tahun terbit)–.—-(judul buku: anak judul)– —(Edisi)—. —–(tempat terbit)—-: —-(nama penerbit)—. 1spasi

2spasi

—(marga)–,—(nama kecil)—. –(tahun terbit)–.—(judul buku: anak judul)—. —(Edisi)—. —–(tempat terbit)—-: —-(nama penerbit)—. 1spasi

Djajasudarma, T. Fatimah. 1993. Metode Linguistik: Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Bandung: PT Eresco.

Purwo, Bambang Kaswanti. 1989. “Tata Bahasa Kasus dan Valensi Verba” dalam PELLBA 2. Lembaga Bahasa Unika Atma Jaya. Jakarta: Kanisius.

Bentuk kedua

—(marga)–,—(nama kecil)—. 1 spasi (tahun terbit) —(judul buku: anak judul)—.—(Edisi)—. —– (tempat terbit)—-: —-(nama penerbit)—. 1 spasi

2 spasi

—(marga)–,—(nama kecil)—. 1 spasi (tahun terbit) —(judul buku: anak judul)—.—(Edisi)—. —–(tempat terbit)—-: —-(nama penerbit)—. 1 spasi

Djajasudarma, T. Fatimah. 1993a Semantik 2: Pemahaman Ilmu Makna. Bandung : PT Eresco.

A

———————————. 1993b Metode Linguistik: Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Bandung : PT Eresco.

Rujukan elektonik

Boon, J. (tanpa tahun) Anthropology of Religion. MelaluAi http://www.joe.org/june33/95.html [June/17/03] bln tgl thn

A

Tentang afihdf

Dosen Fakultas ADAB UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
Tulisan ini dipublikasikan di TEKNIKPENULISAN dan tag . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s